World News in Brief: UN staff detentions in Yemen, peacekeepers killed in Sudan sent home, attacks in Ukraine
Dunia di Singkat: Penyekapan Staf PBB di Yaman, Tentara Pemelihara Perdamaian di Sudan Pulang, Serangan di Ukraina
New York – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, pada Jumat (19 Desember 2025), mengecam penyekapan sembilan staf PBB oleh pihak berwenang Houthi secara tidak sah di Yaman. Guterres menyatakan bahwa penangkapan yang terus meningkat ini semakin menghambat operasi kemanusiaan dan mengancam jutaan nyawa.
Pada hari yang sama, sekelompok tentara pemelihara perdamaian dari Sudan yang terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung di Sudan ditarik kembali ke negara asal mereka setelah dua anggota pasukan itu tewas dalam serangan.
Sementara itu, di Ukraina, pertempuran terus berkecamuk di sepanjang garis depan berkaitan dengan agresi militer Rusia. Setidaknya tiga serangan terjadi di berbagai wilayah Ukraina selama 24 jam terakhir, menewaskan beberapa warga sipil dan menyebabkan kerusakan infrastruktur.
Ketiga insiden ini menyoroti fragilitas situasi global dan meningkatnya risiko konflik yang menimbulkan krisis kemanusiaan.
“Saya secara tegas mengecam penyekapan sembilan staf PBB di Yaman. Tindakan kejam ini tidak dapat diterima dan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional,” tegas Guterres melalui Perwakilan PBB di Yaman yang menyampaikan pernyataan resmi berdasarkan instruksi langsungnya.
Guterres menekankan bahwa staf PBB di Yaman bekerja keras untuk memberikan bantuan kepada rakyat di tengah krisis kemanusiaan yang parah. “Penyekapan mereka tidak hanya menghambat upaya bantuan, tetapi juga merugikan jutaan jiwa yang tergantung pada dukungan PBB untuk bertahan hidup,” tambahnya.
Perwakilan PBB berharap pihak terkait dapat segera melepaskan staf PBB yang ditahan secara tidak sah. “Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati mandat kemanusiaan PBB dan memastikan keselamatan semua staf PBB dan pekerja kemanusiaan lainnya di Yaman,” papar perwakilan tersebut.
Dalam pernyataan terpisah, Sekretaris Kabinet Sudan menyatakan bahwa penarikan pasukan pemelihara perdamaian tersebut merupakan langkah yang terpaksa diambil untuk melindungi keselamatan personel mereka. “Kami turut berduka cita atas kematian dua anggota pasukan pemelihara perdamaian dan tahniah atas dedikasi mereka terhadap misi perdamaian di Sudan,” ungkap Sekretaris Kabinet tersebut.
Serangan di Ukraina terus mengintai, sementara situasi politik dan keamanan di menurunkan level dengan berlanjutnya pertempuran.
Kesimpulan
Insiden-insiden di Yaman, Sudan, dan Ukraina menunjukan kompleksitas situasi global saat ini dan pentingnya upaya diplomasi untuk mencapai perdamaian dan kemanusiaan. Pulangnya tenaga pemelihara perdamaian dari Sudan, serta penyekapan staf PBB di Yaman menunjukkan tantangan yang dihadapi di tengah krisis global.