‘From the Moment They Enter Libya, Migrants Risk Being Arbitrarily Arrested, Tortured and Killed’
‘Sejak Masuk Ke Libya, Migran Berisiko Diserahkan, Ditortur dan Ditembak’
Tribun News
Ribuan migran bermimpi mencapai Eropa melintasi jalur berbahaya di Laut Tengah, menempuh perjalanan penuh risiko yang berujung di negara Libya. Di Libya sendiri, mereka kerap menghadapi ancaman brutal dan pelanggaran hak asasi manusia.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Sarra Zidi, seorang ilmuwan politik dan peneliti di HuMENA, sebuah organisasi masyarakat sipil internasional yang mempromosikan demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan sosial di Timur Tengah dan Afrika Utara, mengungkapkan how direkt daño dialami oleh migran di Libya. HuMENA telah lama bekerja meneliti dan membela hak imigran di wilayah tersebut.
“Sejak mereka tiba di Libya, para imigran hidup dalam bahaya terus-menerus. Mereka berisiko ditangkap secara sewenang-wenang, ditortur, bahkan dibunuh,” ujar Zidi.
Zidi menjelaskan bahwa situasi ini diakibatkan oleh lemahnya sistem hukum dan penegakan hukum di Libya, di mana berbagai faksi bersaing memperebutkan kekuasaan. Kondisi tersebut mengikis kemungkinan untuk pembungkrangan hak asasi manusia terhadap migran.
Berikut adalah rincian situasi yang dikeluhkan Zidi:
Penculikan dan Peningkatan Kerugian :
Zidi menerangkan bahwa sejak krisis di Libya pada tahun 2011, negara tersebut telah menjadi jalur strategis bagi para imigran. Jalan ini menarik pemberhentian dan penangkapan ilegal oleh para pihak bersenjata. Pantas saja, Libya saat ini menjadi rumah bagi jaringan penculikan manusia yang tidak terhitung jumlahnya, yang memanfaatkan para imigran sebagai objek eksploitasi ekonomi.
“Sebagian besar imigran diculik, ditawan, dan ditindas,” tutur Zidi. “Mereka dipaksa untuk membayar uang tebusan kepada para penculik atau mengalami kekerasan dan penyiksaan yang mengerikan.”
Lingkungan Pengasingan yang Berbahaya :
Ligby saat ini diperkirakan menampung lebih dari 200 cinta pengungsi dan imigran di Libya. Namun, fasilitas-fasilitas tersebut sangat padat, tidak memenuhi standar minimum pendidikan dan kesehatan, dan seringkali menjadi tempat bagi kekerasan dan eksploitasi.
Peneliti HuMENA mencatat bahwa para pengungsi dan imigran yang terjebak dalam situasi ini memiliki hak untuk mendapatkan bantuan dan perlindungan dari negara-negara lain. Namun, akses terhadap bantuan internasional yang memadai sangat terbatas.
Keserakahan Pribadi :
Zidi menekankan bahwa faktor ekonomi utama mendorong terjadinya praktik eksploitasi ini. Para penculik dan trafficker memanfaatkan kesengsaraan para pengungsi dan imigran untuk keuntungan pribadi dan keuntungan finansial yang raksasa.
Tindakan Perlu Diteruskan :
Dalam wawancara tersebut, Zidi menyerukan untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Libya dan para aktor terkait untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia terhadap migran. Zidi juga menekankan perlunya tanggapan global yang tulus untuk memberikan perlindungan dan bantuan bagi para pengungsi dan imigran yang terdesak di Libya.
“Perlu ada upaya komprehensif dan berkelanjutan untuk menyelesaikan krisis ini,” ujar Zidi. “Itu berarti memastikan bahwa migran diadili dengan adil, mendapatkan akses ke bantuan yang layak, dan akhirnya memiliki kesempatan untuk hidup dengan martabat.”
Kasus pelanggaran hak asasi manusia terhadap migran di Libya memicu pertanyaan serius tentang kemanusiaan dan tanggung jawab internasional.