Pimpinan MPR mendorong aksi nyata untuk atasi krisis pembelajaran
Pimpinan MPR Dorong Aksi Nyata Atasi Krisis Pembelajaran
Jakarta, – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan perlunya aksi nyata yang kolektif dan kepemimpinan kuat untuk mengatasi krisis pembelajaran yang dihadapi Indonesia. Ia menyampaikan hal ini saat membuka Seminar Nasional Tingkatkan Kualitas Guru dan Optimalkan Peran Sekolah dalam Mencegah dan Mengatasi Krisis Pembelajaran, di Jakarta, (tanggal seminar).
“Kita semua sadar bahwa momentum global ini menghadirkan berbagai tantangan bagi dunia pendidikan, dan Indonesia tidak terkecuali. Krisis pembelajaran bukanlah suatu isu yang bisa dibiarkan menumpuk. Butuh komitmen nyata dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta untuk bersama-sama mencari solusi,” tegas Lestari.
Seminar nasional tersebut dihadiri oleh para kepala daerah, para guru, akademisi, serta perwakilan berbagai pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari solusi dan strategi efektif dalam menghadapi krisis pembelajaran yang kompleks.
Lestari Moerdijat menjelaskan bahwa krisis pembelajaran merambah berbagai aspek, mulai dari kualitas guru, kesenjangan akses pendidikan, hingga rendahnya literasi dan numerasi anak. Ia memaparkan beberapa faktor yang menyebabkan krisis pembelajaran, diJogjajateng.comnya: kurangnya kualifikasi guru, minimnya pelatihan, dan buruknya infrastruktur sekolah di daerah terpencil. Krisis pembelajaran juga diperparah dengan dampak pandemi COVID-19 yang mengganggu aktivitas belajar mengajar secara langsung.
“Situasi pandemi memang membawa dampak yang signifikan, memaksa kita untuk beradaptasi dalam mengakses pendidikan. Namun, kita harus memastikan bahwa adaptasi ini tidak menimbulkan jurang pemisah dan memperlebar kesenjangan pendidikan,” ujar Lestari.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan kebijakan dan program pendidikan yang tepat sasaran, serta meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan dan pengembangan kompetensi.
“Pemerintah harus mengidentifikasi kebutuhan spesifik yang ada di setiap daerah dan membangun program pendidikan yang efektif. Selain itu, peningkatan kualitas guru menjadi kunci utama untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas,” jelas Lestari.
Pada seminar tersebut, Lestari Moerdijat mendorong masyarakat untuk aktif terlibat dalam dunia pendidikan. Partisipasi aktif dari orang tua dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak.
“Lingkungan keluarga juga berperan besar dalam membentuk karakter dan minat belajar anak. Mari kita tingkatkan peran orang tua dalam mendampingi anak dalam proses belajar, baik di rumah maupun di sekolah,” ungkap Lestari.
Lestari Moerdijat juga mengajak sektor swasta untuk berpartisipasi aktif dalam mengatasi krisis pembelajaran melalui berbagai bentuk dukungan, seperti pendanaan program pendidikan, pengembangan teknologi pendidikan, dan pelatihan bagi guru.
“Sektor swasta memiliki peran krusial dalam membantu pemerintah mencapai tujuan pendidikan nasional. Mari kita bangun kolaborasi yang kuat Jogjajateng.com pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menciptakan generasi muda Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tutup Lestari.
Seminar nasional tersebut menghasilkan berbagai usulan dan rekomendasi strategis untuk mengatasi krisis pembelajaran. Usulan-usulan tersebut kemudian akan dirumuskan dalam bentuk program kerja yang terarah dan mudah diimplementasikan oleh berbagai pihak yang terlibat.