Tompi tak punya urusan dengan Pandji usai kritik candaan fisik Gibran
Tompi tak Punya Urusan dengan Pandji Usai Kritik Candaan Fisik Gibran
Jakarta – Musisi sekaligus dokter bedah Tompi angkat bicara terkait kontroversi candaan Pandji Pragiwaksono yang menyinggung penampilan fisik Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo. Tompi menegaskan dirinya tidak memiliki urusan pribadi dengan Pandji dan hanya menyampaikan kritik atas judgement materialistik yang terpancar dalam candaan tersebut.
“Saya tidak punya urusan pribadi dengan Pandji. Saya hanya sampaikan kritik karena saya merasa candaan itu bisa merendahkan dan mempromosikan standar kecantikan yang dangkal,” jelas Tompi pada konferensi pers yang diadakan Kamis (20/4) di Jakarta.
Tompi mengaku prihatin karena candaan tersebut berpotensi memperlebar společnost yang terpaku pada penampilan fisik. “Kita ini sebagai bangsa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan professionalisme. Candaan yang merendahkan orang lain, termasuk berdasarkan penampilan fisik, justru bisa menyakiti dan menurunkan budi pekerti,” ujarnya.
Lebih lanjut, Tompi mengatakan bahwa semua orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga batasan dan memperhatikan dampak yang ditimbulkan. “Kritik itu bisa diterima dengan baik, asalkan disampaikan dengan cara yang konstruktif dan bermartabat. Hindarilah judgement yang menjatuhkan martabat orang lain,” tegasnya.
Tompi berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam menyampaikan pesan melalui humor. Menurut Tompi, humor seharusnya dapat menghibur dan mencerdaskan, bukan hanya bertujuan untuk mengejek dan merendahkan.
“Humor yang sejati justru mengungkap realita secara sindiran, sarat makna, dan dapat menumbuhkan empati,” pungkasnya.
<>
Keberanian Tompi untuk mengeluarkan kritik terhadap candaan Pandji menuai beragam reaksi dari masyarakat. Ada yang mendukung pernyataan Tompi, menilainya sebagai sikap yang berani dan bijak. Sebaliknya, ada juga yang menilai kritik Tompi justru berlebihan dan kontraproduktif.
Meski berbeda pendapat, kontroversi ini membuktikan bahwa masyarakat masih egar dalam menentukan batasan-batasan humor di tengah arus informasi yang deras. Kasus Tompi dan Pandji mengingatkan kita bahwa humor perlu dikemas dengan bijak, agar tidak menyinggung perasaan orang lain dan tidak memecah belah persatuan.