Kenali “post holiday blues” yang dapat dialami pekerja maupun pelajar
Kenali “Post Holiday Blues” yang Dapat Dialami Pekerja dan Pelajar
Jakarta – Rasa senang dan semangat yang mewarnai libur panjang atau perayaan besar cenderung memudar begitu aktivitas rutin kembali bergulir. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan suasana hati yang lesu, sedih, atau bahkan cemas. Fenomena ini dikenal sebagai “post holiday blues”, istilah yang menggambarkan kondisi emosional sementara yang terjadi setelah periode libur panjang atau perayaan berakhir.
Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog menjelaskan, post holiday blues dapat dialami oleh siapa saja, baik pekerja maupun pelajar. “Kembali dari masa libur, banyak orang merasa lelah, kehilangan rutinitas, dan berhadapan dengan tuntutan baru yang terasa berat,” ujarnya.
Kondisi ini umumnya ditandai dengan beberapa gejala seperti:
Perasaan sedih atau lesu: Rasa bahagia liburan sebagaimana dialami biasanya berganti dengan suasana hati yang suram dan kurang berenergi.
Kurang motivasi: Kesulitan untuk bersemangat dan fokus pada tugas atau pekerjaan menjadi umum.
Kemunduran produktivitas: Kinerja dan efisiensi cenderung menurun karena kurangnya motivasi dan semangat.
Takut atau cemas tentang pekerjaan/kuliah: Menuju pekerjaan atau sekolah kembali seringkali menimbulkan rasa cemas dan kekhawatiran yang berlebihan.
Gangguan tidur: Kesulitan untuk tidur nyenyak atau mengalami insomnia kerap melanda.
Sulit berkonsentrasi: Kemampuan konsentrasi dan fokus terhadap aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.
Virginia Hanny menyebutkan bahwa beberapa faktor dapat memperbesar risiko mengalami post holiday blues, seperti:
Rebound effect: Saat liburan berakhir, orang mungkin mengalami periode pemulihan energi yang terganggu karena aktivitas tinggi dan perubahan pola tidur selama liburan.
Gangguan pola tidur: Perubahan drastis dalam jadwal tidur selama libur bisa mengganggu ritme sirkadian dan membuat seseorang merasa lelah dan lesu setelahnya.
Pengeluaran berlebihan: Menghabiskan banyak uang selama liburan dapat menimbulkan stress finansial dan beban emosional setelahnya.
Dukungan sosial: Perasaan kesendirian atau kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko mengalami post holiday blues.
Atasi Post Holiday Blues
Untungnya, post holiday blues biasanya bersifat sementara dan dapat diatasi. Brenda Azalia, Psikolog, membagikan beberapa tips untuk mengatasinya:
Kembalilah ke rutinitas secara bertahap: Jangan paksakan diri untuk langsung kembali ke aktivitas seperti sedia kala. Mulailah dengan aktivitas ringan dan tingkatkan secara bertahap.
Tetapkan tujuan baru: Tetapkan target kecil yang realistis untuk pekerjaan atau kegiatannya setelah liburan.
Manajemen stres: Lakukan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau deep breathing exercises untuk mengurangi stress dan kecemasan.
Pastikan tidur yang cukup: Usahakan untuk tidur cukup setiap malam dan bangun dengan waktu yang teratur.
Makan makanan bergizi: Konsumsi makanan sehat dan bergizi untuk menjaga energi dan mood.
Berinteraksi sosial: Cobalah untuk meluangkan waktu berkomunikasi dengan orang terdekat untuk mengurangi perasaan kesepian.
Beberapa gejala post holiday blues mungkin membutuhkan penanganan profesional. “Jika gejala-gejala tersebut berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, penting untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater,” ujar Virginia Hanny.
Kesimpulan
Post holiday blues merupakan kondisi emosional yang umum terjadi setelah periode libur panjang. Meskipun wajar, penting untuk memahami tanda-tanda dan dampaknya. Dengan menerapkan tips yang tepat dan menjaga kesehatan mental, post holiday blues dapat diatasi dengan baik dan aktivitas kembali terjalin dengan lancar.