JogjaJateng .com

Excluding Food Systems From Climate Deal Is a Recipe for Disaster

January 9, 2026 • Jogja jateng
Excluding Food Systems From Climate Deal Is a Recipe for Disaster

Mengeluarkan Sistem Ketahanan Pangan dari Perjanjian Iklim adalah Resep Bencana

Bulawayo, Zimbabwe – Dunia berfokus pada perubahan iklim pada Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP), namun pembahasan yang marak di Bulawayo, Zimbabwe, pada COP30 tak kunjung membahas perbaikan sistem ketahanan pangan, padahal sektor ini dikenal sebagai sumber utama emisi karbon.

Para ahli memperingatkan bahwa mengabaikan peran krusial sistem ketahanan pangan dalam perjanjian iklim mendatang akan berujung disaster. Sektor pertanian dan pangan memiliki kontribusi signifikan terhadap perubahan iklim, baik melalui emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari deforestasi, penggunaan pupuk dan pestisida, hingga proses pengolahan dan pembuangan sampah pangan. Di sisi lain, sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan juga merupakan kunci dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Suwanty Sudasari, pakar lingkungan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengungkapkan keprihatinan bahwa isu ketahanan pangan masih belum mendapatkan perhatian penuh di COP30.

“Proses negosiasi harusnya menitikberatkan pada perluasan pembahasan mengenai peran agroekologi dan praktik pertanian berkelanjutan dalam mengurangi jejak karbon dan meningkatkan resiliensi pangan di kalangan negara berkembang,” ujar Suwanty.

Selama konferensi, sementara para diplomat dan pemangku kepentingan berdiskusi tentang target pengurangan emisi dan penggalangan dana untuk mitigasi perubahan iklim, para ahli menekankan pentingnya pembaharuan sistem ketahanan pangan.

Asri Apriliyani, Koordinator Program Keadilan Agribusines di Institut Pertanian Bogor (IPB), menilai COP30 memiliki peluang emas untuk mengimplementasikan solusi ramah lingkungan dalam sektor pertanian.

“Kami membutuhkan komitmen politik yang nyata untuk mendorong adopsi teknologi ramah lingkungan dalam pertanian, seperti sistem hidroponik dan aeroponik, serta pemanfaatan produk ramah lingkungan seperti pupuk organik dan pestisida biologis,” jelas Asri.

Para ahli juga menyoroti perlunya perubahan pola konsumsi masyarakat. “Pencemaran lingkungan dikemudian juga berhubungan dengan konsumsнитель yang berbasis pada porogrfei daging dan produkgetvalue yang intensif. / Mengurangi konsumsi daging dan mengutamakan produk pangan lokal, organik, dan berkelanjutan merupakan langkah penting dalam mengurangi dampak negatif sektor ketahanan pangan terhadap perubahan iklim,” terang Asri.

COP30 merupakan momentum bagi dunia untuk mengakui pentingnya sistem ketahanan pangan dalam upaya mencapai tujuan iklim global. Mengabaikan sektor ini akan menjadi kesalahan besar yang berujung pada komplikasi masalah perubahan iklim, khususnya bagi negara-negara berkembang yang paling rapuh terhadap dampaknya.

Kesimpulan

Penting untuk menyadari bahwa perubahan iklim tidak hanya tentang emisi karbon, tetapi juga tentang membangun sistem yang berkelanjutan dan resilient di semua bidang, termasuk sektor ketahanan pangan. Menggabungkan perspektif ketahanan pangan dalam perjanjian iklim mendatang adalah langkah krusial untuk menyelamatkan planet dan masa depan generasi mendatang. Keterlibatan aktif negara-negara, aktivis lingkungan, para ahli, dan masyarakat sipil sangat dibutuhkan untuk mendorong terwujudnya sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan dan inklusif di jejak COP30.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us