JogjaJateng .com

Our New Colonial Era

January 12, 2026 • Jogja jateng
Our New Colonial Era
Masa Kolonial Baru

New York, 12 Januari – Dunia menjuarakan berakhirnya era kolonialisme. Namun, paradoksnya, pola-pola struktural kolonial kembali mereproduksi diri, mendasari praktik kebijakan luar negeri, tata pemerintahan internasional, dan pembagian kekuatan ekonomi global. Fenomena ini bukanlah sentuhan nostalgia terhadap suasana zaman kolonial, melainkan redefinisi praktik global yang lebih menyerupai logika penjajahan daripada kerjasam yang substantif.

Dr. Ann Marie Smith, seorang ahli geopolitik dari Universitas Columbia, menjelaskan, “Kita melihat tren baru ini di mana negara-negara kuat menjatuhkan pengaruh mereka tidak melalui kontrol wilayah langsung, melainkan melalui berbagai jalur ekonomi dan politik yang tersembunyi. Kelezatannya adalah, sistem ini lebih sulit untuk dikenali sebagai eksploitasi tradisional.”

Salah satu bentuk nyata “masa kolonial baru” ini terlihat dalam dominasi kekuatan ekonomi global. Sekelompok negara maju memegang kendali atas sumber daya, teknologi, dan infrastruktur dunia. Mereka menetapkan aturan global, mengendalikan arus perdagangan, dan menentukan kebijakan keuangan yang menguntungkan diri sendiri. Akibatnya, negara-negara berkembang kerap terperangkap dalam lingkaran utang dan ketergantungan, mengorbankan otonomi dan kedaulatannya demi bertahan.

Sementara itu, kebijakan luar negeri berbasis hegemoni terus dilanjutkan dengan cara yang berbeda. Gerakan internasional yang bertujuan menyeimbangkan kekuatan tampak tergerus oleh blokir geopolitik dan perjanjian dagang yang menguntungkan negara dominan.

“Dominasi ekonomi menciptakan dominasi politik yang mengarah pada tekanan terhadap sovereignty negara-negara lain,” tegas Profesor Smith. “Memasuki era terkini, kita melihat kembalinya bentuk politik kolonial, di mana negara-negara tertindas dituntut untuk berdiri di belakang negara-negara kaya dan kuat.”

Di samping itu, platform teknologi dan media massa yang didominasi oleh perusahaan multinasional maju juga berperan dalam pembentukan narasi global yang menguntungkan negara-negara dominan. Kesenjangan informasi dan kontrol akses terhadap pengetahuan semakin memperkuat ketidakseimbangan kekuatan yang ada.

Gejala lain dari “masa kolonial baru” adalah eksploitasi sumber daya alam. Industri-industri besar seringkali mencari keuntungan dengan mengeksploitasi sumber daya alam negara-negara miskin dengan harga yang jauh di bawah nilai sebenarnya. Pemborosan hutan, pencemaran lingkungan, dan eksploitasi tenaga kerja di daerah-daerah sumber daya menjadi hal yang lazim.

Meskipun demikian, Prof. Smith juga menekankan bahwa “masa kolonial baru” ini tidak sepenuhnya tak terelakkan. Ia melihat adanya kecenderungan perlawanan dari negara-negara berkembang yang mulai sadar akan kepentingan mereka dan berusaha membangun sistem ekonomi dan politik yang lebih adil.

Gerakan-gerakan seperti ‘dekolonisasi’ dan ‘keberagaman global’ menunjukkan harapan akan perubahan. Penguatan kerjasama antar negara-negara berkembang, kontrol lebih populer terhadap sumber daya teknologi, dan reformasi global yang lebih inklusif menjadi dorongan untuk membendung arus “masa kolonial baru”. Pertempuran ideologis Jogjajateng.com dominasi dan keadilan belum berakhir, dan nasib dunia tergantung pada pilihan yang diambil dalam babak selanjutnya.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us