‘Beyond GDP’ economists push for clearer metrics on wellbeing, sustainability
‘Melampaui PDB’: Ekonomi Demasi Argumen Metrik Kesejahteraan dan Berkelanjutan
Jenewa, Swiss – Para ekonom top dunia berkumpul di Jenewa untuk mendesak perubahan dramatis dalam cara pertumbuhan ekonomi diukur. Asosiasi ini muncul sebagai reaksi atas kekhawatiran bahwa metrik PDB (Produk Domestik Bruto) memberikan sedikit gambaran tentang kemajuan dalam mencapai target keberlanjutan yang penting untuk kelestarian manusia.
Selama pertemuan di Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Jenewa, para ekonom menekankan ketidakmampuan PDB untuk menangkap berbagai faktor penting seperti kesenjangan sosial, pencemaran lingkungan, dan kesehatan penduduk. Mereka berpendapat bahwa fokus yang berlebihan pada pertumbuhan PDB dapat mendorong tindakan jangka pendek yang merugikan, mengabaikan dampak jangka panjang terhadap kelangsungan hidup planet dan kesejahteraan manusia.
Prof. Jeffrey Sachs, salah satu ekonom terkemuka yang turut memandu diskusi, menyatakan, “PDB memberikan gambaran yang terlalu sempit tentang kemajuan ekonomi. Kita perlu metrik yang lebih lengkap, yang memperhitungkan faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, kesetaraan, dan dampak lingkungan, untuk memfasilitasi pembangunan yang berkelanjutan.”
Para ekonom mengangkat beberapa alternatif metrik ‘melampaui PDB’, seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kebahagiaan Nasional. IPM mengukur kemajuan dalam kesehatan, pendidikan, dan pendapatan, sementara Indeks Kebahagiaan Nasional mempertimbangkan faktor-faktor seperti persepsi masyarakat tentang kesejahteraan mereka sendiri.
Selain itu, para ahli juga mempromosikan penggunaan metrik yang lebih spesifik untuk mengukur keberlanjutan, seperti indeks karbon emisi, tingkat degradasi ekosistem, dan akses terhadap sumber daya air bersih.
Tantangan dalam Penerapan
Penerapan metrik baru ini bukanlah tanpa tantangan. Pengembangan dan implementasi metrik ke depan memerlukan kolaborasi antar negara, badan internasional, dan berbagai sektor. Terdapat juga kekhawatiran tentang kompleksitas data dan metode pengumpulan yang diperlukan untuk menilai metrik-metrik ini secara akurat.
Namun, para ekonom menekankan bahwa tantangan tersebut tidak boleh menghambat pergeseran paradigma dalam cara kita mengukur kemajuan.
“Sadarilah bahwa PDB bukanlah ukuran yang sempurna. Ini hanya satu alat dari banyak alat yang ada, dan kita perlu menggunakan alat yang tepat untuk mengukur apa yang ingin kita capai,” ujar Dr. Dambisa Moyo, ekonom dan penulis yang dikenal dengan analisisnya tentang ekonomi global.
Pertemuan di Jenewa ini diharapkan dapat memicu diskusi dan koalisi global untuk mengembangkan dan menerapkan metrik yang lebih komprehensif dan akurat untuk mengukur kesejahteraan dan keberlanjutan.
Sebagai penutup, transisi dari PDB sebagai satu-satunya metrik ekonomi tidaklah instan. Akan tetapi, diskusi dan koalisi yang terjalin di Jenewa ini mencerminkan semangat dan komitmen global untuk membangun sistem ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan sejahtera bagi semua.