Menlu Iran: Ada Perintah Asing Agar Demonstran Tembaki Polisi dan Warga Sipil
Menlu Iran: Ada Perintah Asing Agar Demonstran Tembaki Polisi dan Warga Sipil
Teheran – Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, menuduh kekuatan asing berupaya memicu kekerasan dan pertumpahan darah dalam demonstrasi yang beberapa bulan terakhir menggemparkan Iran. Ia menyatakan bahwa ada perintah dari luar negeri bagi demonstran untuk menyerang polisi dan warga sipil yang tidak terlibat dalam aksi protes.
Tuduhan ini dilontarkan pada Rabu (17 Mei 2023), saat Amir-Abdollahian memberikan pernyataan kepada wartawan di Teheran mengenai situasi terkini di Iran. “Ada intervensi asing yang massif, yang bertujuan untuk menebar ketegangan dan membunuhi tentara, polisi, dan warga sipil yang tidak bersalah di Iran,” tegasnya.
Amir-Abdollahian tidak merinci mengenai identitas kekuatan asing yang dituduh mengintervensi demonstrasi di Iran. Namun, ia menekankan bahwa demonstrasi yang belakangan terjadi merupakan bagian dari upaya yang terencana untuk melemahkan dan membahayakan stabilitas keamanan di Iran.
“Mereka yang bertanggung jawab atas ini adalah negara-negara asing yang ingin memanfaatkan situasi ini untuk mencapai tujuan mereka sendiri,” ujar Amir-Abdollahian.
Kekerasan melanda Iran sejak September 2022, menyusul kematian Mahsa Amini, seorang wanita muda yang meninggal dunia setelah ditangkap oleh polisi moralitas karena dianggap melanggar aturan berpakaian. Kematian Amini memicu gelombang demonstrasi rakyat yang meluas di seluruh wilayah Iran.
Pemerintah Iran telah berusaha keras untuk menindak tegas demonstrasi tersebut. Ribuan orang telah ditangkap, dan otoritas setempat menyatakan bahwa sejumlah demonstran dibunuh dalam konflik dengan pihak berwenang. Amnesty Internasional dan beberapa aktivis HAM telah menyuarakan kekhawatiran atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama demonstrasi.
Pemerintah Iran bersikeras bahwa demonstrasi tersebut merupakan usaha terorisme yang disponsori negara asing dan bertujuan untuk menggulingkan rezimnya. Mereka menyebut para demonstran sebagai provokator dan anarkis.
Di tengah ketegangan yang terus berlangsung, upaya diplomasi internasional untuk membantu meredakan krisis di Iran tampaknya masih menemui jalan buntu. Pemerintah Iran menolak tuntutan untuk melakukan reformasi dan menutup ruang bagi dialog yang konstruktif dengan pihak asing.
Sementara itu, demonstran terus menuntut pembebasan tahanan politik, penghentian penindasan terhadap perempuan, dan pengakuan atas hak mereka untuk berserikat dan berunjuk rasa dengan damai.
Pernyataan Amir-Abdollahian menambah ketegangan dan polarisasi di tengah krisis di Iran. Tuduhan tentang intervensi asing bagi negara yang berulang kali menuduh kekuatan asing dalam isu domestiknya semakin memperkeruh suasana dan mempersempit peluang bagi pencarian solusi damai.