Keluarga berperan penting dalam pencegahan perkawinan anak
Keluarga Bertanggung Jawab Lahirkan Generasi Merdeka dari Perkawinan Anak
Jakarta – Pernikahan anak masih menjadi isu serius di Indonesia, membawa dampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam upaya mencegah praktik ini, Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun lingkungan yang mendukung kesejahteraan anak dan mencegah pernikahan dini.
“Pernikahan anak adalah pelanggaran hak anak yang fundamental. Selain melanggar haknya atas pendidikan, kesehatan, dan masa depan, pernikahan anak juga berpotensi membawa berbagai dampak negatif bagi anak perempuan dan orang tua.” kata Dini Widiastuti dalam sebuah seminar di Jakarta, (Tanggal Seminar).
Menurut Dini Widiastuti, keluarga memegang peranan krusial dalam bidangnya. Mereka memegang kendali langsung atas kehidupan sehari-hari anak, termasuk aksesnya terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.
“Keluarga merupakan poros utama dalam pencegahan pernikahan anak. Dukungan dan pengertian keluarga dapat menjadi benteng bagi anak yang rentan terhadap hasutan pernikahan dini. Pakai pertimbangan matang dan komunikasi terbuka Jogjajateng.com orang tua, anak, dan seluruh anggota keluarga menjadi kunci,” tambahnya.
Ada beragam faktor yang mendorong pernikahan anak, termasuk kemiskinan, budaya patriarki, dan kurangnya akses pendidikan, khususnya bagi perempuan.
Dini Widiastuti menjelaskan bahwa keluarga dapat berperan aktif dalam mengatasi faktor-faktor ini dengan beberapa langkah. Pertama, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan untuk anak perempuan dan memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Pendidikan menjadi bekal penting bagi anak perempuan untuk memahami hak-haknya, serta meningkatkan peluangnya dalam membangun ketahanan ekonomi di masa depan dan memicu perubahan sosial”. ungkap Dini Widiastuti.
Kedua, membangun komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anak, terutama tentang isu pernikahan dan hubungan dibangun dengan pikiran yang matang. Ketiadaan komunikasi terbuka dapat meletakkan landasan bagi pernikahan dini yang tidak direncanakan.
Ketiga, menciptakan lingkungan rumah yang mendukung dan memberdayakan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Memberi kepercayaan untuk mengekspresikan diri dan pendampingan yang tepat dalam menentukan arah hidup mereka.
“Ketika keluarga berkomitmen untuk memberdayakan anak dan mendorong akses pendidikan, nilai-nilai positif terhadap perempuan akan tertanam. Hal ini akan menciptakan lingkungan keluarga yang menolak pernikahan anak dan mendorong anak untuk mencapai potensi terbaiknya,” tutur Dini Widiastuti.
“Penting untuk diingat bahwa pernikahan anak adalah masalah kompleks yang memerlukan solusi holistik. Peran keluarga tidak dapat dipisahkan dari upaya pencegahan pernikahan anak yang berkelanjutan.” tutup Dini Widiastuti.
Pendidikan kualitas bagi anak perempuan, pemahaman hak anak, dan komunikasi terbuka di keluarga merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi yang melepaskan diri dari tradisi pernikahan anak. Revitalisasi nilai-nilai keluarga yang mendukung kesejahteraan anak menjadi kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi senantiasa.