JogjaJateng .com

Guinea’s Path to Electoral Autocracy

January 21, 2026 • Jogja jateng
Guinea’s Path to Electoral Autocracy

Jalan Guinea Menuju Otokrasi Pemilu

MONTEVIDEO, Uruguay – Kabut ketegangan mulai mereda setelah Guinea menggelar pemilihan presiden pertama sejak kudeta militer pada tahun 2021. Jenderal Mamady Doumbouya, pemimpin kudeta tersebut, tetap memegang tampuk kekuasaan setelah mendapatkan 87% suara dalam pemilu yang baru saja usai. Namun, hasil ini tak menimbulkan kejutan layaknya sebuah prestasi demokrasi. Malah, ini adalah puncak dari kegagalan Guinea dalam transisi ke pemerintahan sipil.

Pemilu Guinea ini diwarnai kontroversi sejak awal. Pengamat internasional mengkritik prosesnya, menyebut adanya pelanggaran prosedur dan ketidakadilan dalam proses pemilih.

“Transparansi dan keadilan pemilu dipertanyakan. Kami melihat banyak indikasi pemilih tertekan dan inkonstitusionalitas dalam proses ini,” ujar seorang pakar politik lokal yang meminta namanya dirahasiakan karena takut ditindak.

Selain itu, banyak pihak menegangkan keberadaan otoritas pemeliharaan ketertiban yang terdominasi oleh militer, yang mendominasi jalannya pemilu. Partisipasi dari oposisi terkikis, dengan beberapa calon dan tokoh penting pemilihan menolak untuk berkompetisi atau dilarang bertarung dalam pemilu. Hal ini menciptakan gambaran pemilihan yang jauh dari demokratis dan independen.

“Beban militer atas proses pemilu membuat kecurigaan besar muncul tentang kemampuannya untuk memastikan pemilu yang bebas dan adil,” tambah pakar politik tersebut.

Akibat dari kondisi tersebut, hasil pemilihan presiden yang diumumkan kontroversial. Kandidat oposisi yang dianggap memiliki peluang dianggap dipaksa menarik diri sebelum pemublikasian hasil. Sanksi dari perwana internasional pun menggema, dengan beberapa negara mengecam ketidaksesuaian pemilu dengan pandangan internasional tentang demokrasi.

Rezim militer Guinea berupaya membela pemilu tersebut. Mereka menegaskan bahwa pemilihan telah berlangsung sesuai rencana, dan kemenangan Doumbouya merupakan legitimasi rakyat untuk terus memimpin. Namun, upaya pembenaran ini seakan terbantahkan dengan adanya kecurigaan dan pelanggaran yang berseliweran.

chemins Guinea menuju roda demokrasi seakan-akan tergantikan oleh jalan menuju otokrasi pemilu. Peningkatan kekuatan militer, pembatasan ruang oposisi, dan ketidaktransparanan dalam proses pemilu menandai pola yang meresahkan bagi masa depan Guinea. Tantangan bagi masyarakat Guinea untuk menegakkan demokrasi dan menjunjung tinggi hak-hak politiknya akan semakin sulit di jalankan.

  • Artikel ini perlu dilengkapi dengan informasi mengenai upaya solusi, perspektif masyarakat Guinea, dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mendorong penguatan demokrasi di Guinea.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us