World’s Oceans Hit Record Heat in 2025, at Great Economic and Social Costs
Lautan Dunia Catat Suhu Tertinggi, Berujung Kerugian Ekonomi dan Sosial
Jakarta, 22 Januari 2026 – Badan Riset Antariksa dan Laut Indonesia (BRALIN) memperkirakan bahwa suhu permukaan laut rata-rata di seluruh dunia mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025. Temuan ini menjadi sinyal alarm yang kuat tentang akumulasi panas di sistem iklim Bumi dan mengkhawatirkan bagi para ilmuwan iklim. Kawasan perairan Indonesia sendiri mengalami peningkatan suhu yang signifikan, mencapai rata-rata 1,2 derajat Celcius di atas suhu normal.
Peningkatan suhu laut memiliki dampak yang luas dan merugikan bagi ekonomi dan masyarakat dunia. BRALIN memperkirakan, kerugian ekonomi akibat dampak laut, termasuk penurunan hasil perikanan, kerusakan terumbu karang, dan kerusakan infrastruktur pesisir, mencapai dua kali lipat dari biaya emisi karbon secara global. Dampak ini menimbulkan tekanan besar pada negara-negara pesisir, yang bergantung pada laut untuk mata pencaharian, keamanan pangan, dan pariwisata.
Prof. Rina Sari, ahli klimatologi dari BRALIN, menekankan keparahan situasi ini. “Peningkatan suhu laut yang tak terkendali akan memicu serangkaian bencana alam yang semakin sering dan dahsyat,” ujarnya dalam konferensi pers BRALIN di Jakarta. “Gelombang panas laut, perubahan arus, dan koneksi yang semakin kuat dengan fenomena El Nino dan La Nina akan memperburuk keadaan, mengancam kelangsungan hidup jutaan manusia di sepanjang pantai.”
Di Indonesia, sektor perikanan, yang merupakan sumber pangan dan mata pencaharian bagi jutaan masyarakat Indonesia, dirugikan parah oleh perubahan iklim. Penururunan populasi ikan, kerusakan terumbu karang, dan perubahan pola cuaca makin mengancam keberlanjutan sektor ini. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak nelayan dan petani laut di Indonesia yang mengeluhkan penurunan hasil tangkap dan kesulitan dalam menjalankan aktivitas mereka.
“Semakin meningkatnya suhu laut membuat kehidupan kami semakin sulit,” kata Pak Hasan, seorang nelayan tradisional dari Ternate, Maluku Utara. “Ikan yang dulu mudah ditangkap kini semakin jarang. Kami khawatir kelak kami tidak akan punya apa yang bisa di tangkep.”
Dampak perubahan iklim juga terasa di sektor pariwisata. Banyak pantai di Indonesia yang mengalami kerusakan akibat naiknya permukaan laut. Keberadaan terumbu karang yang rapuh dan ekosistem laut yang terganggu juga menghambat pengembangan sektor pariwisata.
Prof. Rina Sari menambahkan bahwa peningkatan suhu laut menjadi pemicu langsung bagi terjadinya bencana alam seperti banjir rob, gelombang tsunami, dan badai yang semakin dahsyat. Situasi ini semakin mempersulit upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim di Indonesia.
KEPUTUSAN Penting
BRALIN mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dalam mengatasi permasalahan ini. Masyarakat Indonesia juga diarahkan untuk lebih aktif dalam upaya mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan dan berpartisipasi dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
“Kita perlu bertindak sekarang untuk melindungi lautan kita dan generasi mendatang. Peningkatan suhu laut merupakan sinyal bahaya yang membutuhkan respons kolektif,” tutup Profesor Rina Sari.