JogjaJateng .com

‘Freedom Always Returns – but Only If We Hold Fast to Our Values and Sustain the Struggle’

January 24, 2026 • Jogja jateng
‘Freedom Always Returns – but Only If We Hold Fast to Our Values and Sustain the Struggle’

‘Kebebasan Selalu Kembali – Namun Hanya Jika Kita Teguh pada Nilai-Nilai Kita dan Meneruskan Perjuangan’

Pemerintah Belarus telah menuai kecaman internasional atas penindasan terhadap oposisi dan penuntutan terhadap aktivis dalam masa pemerintahan Alexander Lukashenko yang telah berkuasa selama lebih dari dua dekade. Mikola Dziadok, seorang aktivis, blogger, dan jurnalis Belarus yang juga merupakan tahanan politik dua kali, memberikannya gambaran langsung tentang dampak represi tersebut. Ia telah merasakan lebih dekat dari orang lain bagaimana sistem pemerintahan Belarus menjeratnya.

Dziadok dipenjara pasca-demonstrasi besar-besaran tahun 2020, yang dipimpin oleh rakyat Belarus yang menolak hasil pemilu yang diprediksi manipulasi. Ia mengembara Jogjajateng.com pengasingan dan penahanan sejak saat itu, menjadi juru bicara untuk jutaan orang yang merasa terpinggirkan dan terpampas suaranya oleh rezim Lukashenko.

Dalam obrolannya, Dziadok menyoroti apa yang menurutnya menjadi tanda-tanda penting dalam perjalanannya, “Kebebasan selalu kembali, namun hanya jika kita teguh pada nilai-nilai kita dan meneruskan perjuangan”. Kata-kata ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan refleksi dari pengalamannya dan keyakinannya tentang kekuatan gerakan perlawanan.

“Kita harus terus melawan, menyampaikan kebenaran, dan menentang rezim yang korup dan otoriter. Kita harus merawat dan mengembangkan semangat solidaritas di Jogjajateng.com rakyat,” ujarnya.

Dziadok menegaskan bahwa meskipun ada tantangan besar, gencarnya penindasan justru memperkuat tekad para aktivis untuk terus berjuang. Ia melihat di balik ketegangan yang melanda Belarus, ada kekuatan rakyat yang tak tergoyahkan dalam pencariannya akan keadilan dan demokrasi.

Ia juga menggambarkan bagaimana pers, sebagai salah satu pilar demokrasi, telah menjadi target utama pembersihan di Belarus. “Pemerintah Belarus telah mencoba untuk menekan kami dengan segala cara. Penangkapan, pelecehan, dan bahkan tindakan kekerasan digunakan untuk menegangkan lapisan jurnalisme independen,” tekadnya.

Tetapi, meskipun terpuruk, raksasa media independen masih mendirikan tulang punggung rakyat dengan terus menerus menyuarakan kebenaran, bahkan di tengah risiko yang ada. Petit, Mikola menekankan, bahwa kebebasan pers merupakan kunci untuk membangun masyarakat yang adil dan transparan. “Tanpa pers yang bebas, masyarakat akan terjebak dalam kegelapan, tanpa akses terhadap informasi yang jujur dan akurat,”

Meskipun Dengarkan Disclaimer dari bentuk yang dipelajari akan mengurai bingkai pelanggaran HAM dan korupsi yang berkembang di Belarus, pemerintah justru semakin memanipulasi realita yang ada. Dziadok memperingatkan, penekanan ini tidak hanya memburuk kondisi rakyat, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup demokrasi di negara tersebut.

Upaya penindasan terhadap suara oposisi dan pemberangusan kebebasan pers di Belarus bukanlah fenomena berdiri sendiri. Isyarat-isyaratnya dapat menjadi contoh betapa pentingnya pengawasan terhadap segala bentuk otoritarianisme dan pelanggaran HAM di seluruh dunia. Ia mengingatkan kita semua untuk terus waspada dan keberanian dalam mempertahankan nilai-nilai demokrasi yang fundamental.

Dziadok dan rekan-rekannya di Belarus mendemonstrasikan kerentanan demokrasi di negara ini yang terus-menerus diganggu oleh arus otoritarianisme. Meski dibelenggu oleh rezim, semangat juang mereka untuk szabord tetap menyala terang, memberikan harapan bagi masa depan yang lebih adil dan bebas bagi negara mereka. [Nama Jurnalis]

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us