JogjaJateng .com

Moving Towards Agroecological Food Systems in Southern Africa

January 23, 2026 • Jogja jateng
Moving Towards Agroecological Food Systems in Southern Africa

Menuju Sistem Pangan Agroekologis di Afrika Selatan

Chongwe, Zambia – Di sebuah desa kecil bernama Nkhondola, di Distrik Chongwe, Zambia bagian timur, Royd Michelo dan istrinya Adasila Kanyanga telah mengubah lima hektar lahan mereka menjadi lanskap yang mandiri secara agroekologis. Dengan tanah yang subur yang dibangun selama bertahun-tahun, lahan mereka dipenuhi dengan beragam tanaman pangan, pohon buah-buahan, ternak, dan burung-burung, yang memberi makan keluarga mereka dan komunitas sekitar.

Kisah dinamika di Nkhondola mencerminkan tren yang semakin berkembang di seluruh Afrika Selatan, dimana para petani dan masyarakat secara aktif beralih ke sistem pangan agroekologis. Sistem ini menekankan penggunaan praktik-praktik ramah lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan dan kesehatan ecosystems.

“Kami banyak belajar dari alam. Kami mengamati siklus alam, jenis tanaman yang tumbuh dengan baik bersama, dan bagaimana menjaga keseimbangan ekosistem,” ujar Royd Michelo.

Royd dan Adasila menerapkan metode agroekologis seperti sistem pertanian tumpangsari, pengelolaan tanah yang baik, penggunaan pupuk organik, dan pengendalian hama alami. Mereka memelihara ketahanan pangan dengan menanam beragam jenis tanaman di lahan mereka.

“Tidak hanya menghasilkan lebih banyak makanan, tetapi juga melindungi lingkungan dan meningkatkan kualitaskan tanah,” tambahnya.

Shift ke sistem pangan agroekologis di Afrika Selatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Sistem tradisional seringkali rapuh terhadap kekeringan, banjir, dan serangan hama akibat perubahan iklim. Agroekologi menawarkan solusi yang lebih tangguh dan adaptif.

Selain itu, agroekologi juga berkontribusi pada pemulihan kesuburan tanah yang semakin terancam di berbagai wilayah Afrika Selatan. Penggunaannya pupuk kimia berlebihan dan praktik-praktik pertanian intensif telah menyebabkan penurunan nutrisi tanah dan degradasi lahan.

“Lebih dari sekadar menghasilkan makanan, agroekologi membantu kami dalam memelihara lingkungan, membangun kesehatan tanah, dan memastikan ketahanan pangan untuk generasi mendatang,” ujar Adasila Kanyanga.

Namun, transformasi menuju sistem pangan agroekologis bukanlah proses yang mudah. Kurangnya akses terhadap bantuan dan pengetahuan teknis serta pembiayaan yang memadai menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh para petani di Afrika Selatan.

Pemerintah dan pihak-pihak terkait perlu memberikan dukungan yang dinamis terhadap agroekologi. Ini meliputi penyediaan pelatihan dan edukasi kepada petani, akses terhadap benih dan infrastruktur yang mendukung, serta kebijakan yang mendorong praktik-praktik agroekologis.

Tantangan di hadapan pemimpin dunia saat ini adalah bagaimana mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Afrika Selatan dan di seluruh dunia. Sistem pangan agroekologis menjadi kunci untuk mencapai tujuan ini. Melibatkan masyarakat lokal, menghargai pengetahuan tradisional, dan memprioritaskan praktik-praktik yang ramah lingkungan adalah investasi penting untuk masa depan yang lebih berkelanjutan untuk semua.

Belajar dari Nkhondola dan desa-desa lain yang menerapkan agroekologi, Afrika Selatan memiliki potensi besar untuk membangun sistem pangan yang lebih resilien, berkelanjutan, dan berfokus pada kesejahteraan masyarakat.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us