Ekonom ungkap dua peluang arah IHSG selama 2026
Ekonom Ungkap Dua Peluang Arah IHSG Selama 2026
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi sepanjang tahun 2026. Hal ini diungkapkan oleh ekonom dan praktisi pasar modal, Hans Kwee, yang melihat adanya dua potensi arah pergerakan bursa saham Indonesia tersebut.
“Volatilitas di pasar saham global, termasuk IHSG, memang akan lebih tinggi pada tahun 2026,” ujar Kwee, dalam sebuah seminar mengenai prospek pasar saham Indonesia beberapa waktu lalu. “Ada banyak faktor berpengaruh, mulai dari dinamika geopolitik, kebijakan moneter global hingga faktor domestik seperti situasi ekonomi Indonesia.”
Kwee menjelaskan bahwa dua potensi arah IHSG pada tahun 2026 adalah optimis dan pesimis.
Skenario Optimis:
Pada skenario optimis, IHSG diperkirakan akan mampu melesat dan mencapai level baru. Menurut Kwee, skenario ini akan terjadi jika beberapa faktor mendukung dapat terpenuhi, salah satunya adalah perlambatan inflasi secara global dan kebijakan moneter yang lebih longgar.
“Jika inflasi global bisa terkendali, maka kemungkinan besar bank sentral juga akan mulai mengurangi suku bunga acuannya. Kebijakan moneter yang longgar ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia,” jelasnya. “Hal ini pada gilirannya akan mendorong kinerja industri dan perusahaan, yang pada akhirnya akan tercermin pada kenaikan harga saham di IHSG.”
Selain itu, kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi domestik dan peningkatan daya saing Indonesia juga akan menjadi faktor pendorong utama dalam skenario optimis. Berkurangnya ketegangan geopolitik dan peningkatan investasi asing juga dapat memperkuat prospek IHSG di tahun 2026.
Skenario Pesimis:
Di sisi lain, Kwee juga menyajikan skenario pesimis di mana IHSG justru mengalami penurunan pada tahun 2026. Skenario ini dapat terjadi jika inflasi global dan domestik terus meningkat, memaksa bank sentral global untuk berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
“Perlambatan ekonomi global akibat pertambahan inflasi dan tingginya suku bunga akan berdampak pada kinerja perusahaan dan daya beli masyarakat. Akibatnya, IHSG dapat mengalami penurunan,” imbuh Kwee.
Selain inflasi, risiko geopolitik dan ketidakstabilan politik domestik juga dapat memperburuk skenario pesimis. Kwee menekankan pentingnya investor untuk mengantisipasi potensi risiko tersebut dengan melakukan due diligence sebelum berinvestasi.
Kesimpulan:
Dalam kesimpulannya, Kwee menyampaikan bahwa arah pergerakan IHSG pada tahun 2026 masih diliputi ketidakpastian. Keberhasilan atau kegagalan memenuhi premis pada kedua skenario, optimis dan pesimis, yang akan menentukan pergerakan IHSG ke depan.
“Pertemuan G20, serta perkembangan geopolitik global dan domestik, akan menjadi barometer penting bagi arah ekonomi Indonesia dan penentu pergerakan IHSG tahun 2026,” ujarnya.
“Oleh karena itu, investor perlu terus memantau perkembangan terkini, membuat strategi investasi yang matang, diversifikasi portofolio, dan memperhatikan profil risiko pribadi.”