Psikolog: Empati perlu diimbangi batasan sehat
Psikolog: Empati Perlu Diimbangi dengan Batasan Sehat
Gempa bumi Malang, konflik Ukraina-Rusia, bahkan tragedi-tragedi di lingkungan sekitar , situasi krisis seakan tak henti-henti menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kejadian-kejadian menyedihkan ini seringkali memicu keterhubungan emosional yang mendalam, khususnya rasa empati. Empati itu sendiri adalah kemampuan kita untuk memahami dan merasakan emosi orang lain. Namun, psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa rasa empati yang berlebih perlu diimbangi dengan batasan sehat, terutama saat menghadapi situasi krisis yang berkepanjangan.
“Faktanya, empati adalah dasar dari hubungan sosial yang harmonis. Tapi, empati tanpa batas justru dapat menjerat kita dalam pusaran emosi lain, bahkan sampai mengorbankan kesejahteraan diri sendiri,” ungkap Virginia Hanny dalam sebuah seminar online yang diikuti ratusan peserta.
Situasi krisis berskala besar, menurutnya, dapat memicu perasaan cemas, stres, dan bahkan trauma. Rasa dukung dan peka terhadap penderitaan orang lain menjadi arus bawah sadar yang kuat.
“Misalnya, kita melihat di media banyak korban bencana alam. Kita pasti akan merasa sedih, prihatin, bahkan ikut menderita merasakan sakit yang dialami mereka. Namun, terus terpapar informasi negatif dan fokus pada penderitaan orang lain tanpa batas tanpa kontrol bisa membahayakan kesehatan mental kita sendiri,” ujar psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada ini.
Bagaimana agar empati tidak menjadi beban? Virginia Hanny menjelaskan bahwa batasan sehat diperlukan untuk menjaga keseimbangan emosi.
“Mulailah dengan kesadaran diri. Kenali batasan empati Anda. Apakah Anda cenderung terbawa emosi kuat? Apakah Anda mudah merasa kelelahan emosional saat terpapar cerita-cerita duka?”
Dilanjutkan dia, batasan sehat perlu diterapkan secara praktis. Ini meliputi:
Membatasi konsumsi berita: Tidak perlu memantau semua berita negatif 24 jam. Fokuslah pada channel terpercaya dan batasi waktu Anda membacanya.
Lakukan aktivitas yang menyehatkan: Olahraga, meditasi, bergaul dengan orang terdekat, dan hobi adalah cara untuk menjaga keseimbangan mental dan emosional.
Fokus pada apa yang bisa Anda lakukan: Alih-alih terjebak dalam rasa khawatir, gunakan energi Anda untuk membantu. Berdonasi, relawan, atau berbagi informasi bermanfaat adalah bentuk empati yang konstruktif.
Jangan takut meminta bantuan: Jika merasa kewalahan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional, seperti psikolog.
“Empati adalah kualitas yang luar biasa. Dengan batasan yang sehat, empati dapat menjadi sumber kekuatan bagi diri kita sendiri dan membantu orang lain dengan cara yang lebih efektif,” tutup Virginia Hanny.
Mengenali dan menerapkan batasan sehat dalam empati merupakan langkah penting terutama di tengah derasnya arus informasi dan banyaknya tantangan dalam kehidupan.