JogjaJateng .com

Pemprov Jateng ungkap kajian penyebab longsor di lereng Gunung Slamet

January 28, 2026 • Jogja jateng
Pemprov Jateng ungkap kajian penyebab longsor di lereng Gunung Slamet

Pemprov Jateng Ungkap Kajian Penyebab Longsor di Lereng Gunung Slamet

Semarang – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga diperkirakan terjadi akibat beberapa faktor kompleks.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) telah melakukan kajian mendalam untuk mengungkap penyebab di balik bencana alam tersebut. Kepala DLHK Jateng, Widi Hartanto, menjelaskan hasil kajiannya di Semarang, Rabu (22/2).

“Tingginya curah hujan menjadi salah satu faktor utama yang memicu bencana banjir dan tanah longsor,” ujar Widi Hartanto.

Ia menambahkan bahwa kombinasi Jogjajateng.com kerapatan jaringan aliran sub-daerah aliran sungai (DAS) yang terlampau sempit dan curah hujan tinggi menyebabkan debit air sungai di lereng Gunung Slamet meningkat secara drastis dalam waktu singkat. Hal ini mengakibatkan meluapnya sungai dan banjir di sejumlah wilayah.

“Di beberapa titik, kondisi lereng yang tidak stabil ditambah dengan curah hujan yang tinggi, menyebabkan tanah longsor melanda berbagai kawasan,” jelasnya.

Berdasarkan kajian yang dilakukan DLHK Jateng, beberapa faktor lain turut berkontribusi terhadap terjadinya bencana, yaitu:

  1. Aktivitas Manusia:

Widi Hartanto menyebutkan bahwa aktivitas manusia seperti penebangan pohon secara liar, perusakan ekosistem hutan, dan pembangunan di daerah rawan bencana turut memancing terjadinya bencana. Hal ini membuat vegetasi tanah semakin terganggu, sehingga memperburuk kemampuan tanah untuk menahan air hujan.

  1. Erosi Tanah:

Aktivitas manusia juga menyebabkan erosi tanah yang semakin parah di lereng Gunung Slamet. Perlahan namun pasti, erosi tanah mengikis lapisan tanah subur dan mengubah struktur tanah menjadi lebih rapuh. Kondisi ini memudahkan terjadinya tanah longsor ketika diguncang intensitas hujan tinggi.

  1. Topografi Lereng:

Widi Hartanto menyatakan bahwa topografi lereng Gunung Slamet yang curam dan berkelok-kelok juga merupakan salah satu faktor yang mempermudah terjadinya longsor.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah merespons bencana dengan melakukan upaya penanganan darurat berupa evakuasi, penyediaan bantuan logistik, serta perbaikan infrastruktur yang rusak. Diharapkan dengan dievakuasi ke lokasi yang aman, para warga korban bencana dapat memperoleh pertolongan yang optimal.

Selain penanganan darurat, Widi Hartanto menegaskan bahwa upaya pencegahan dan mitigasi bencana menjadi fokus utama bagi pemerintah daerah.

“Pemerintah akan melakukan program reboisasi di lereng Gunung Slamet agar vegetasi tanah terjaga. Kami juga akan memperkuat sistem drainase dan melakukan penguatan pesisir sungai untuk mengurangi resiko banjir dan tanah longsor,” katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan bencana. Widi Hartanto menekankan pentingnya kesadaran warga dalam menjaga lingkungan, tidak melakukan aktivitas yang merusak ekosistem, serta menaati regulasi terkait pembangunan di daerah bencana.

Diharapkan dengan kerja sama semua pihak, resiko bencana di lereng Gunung Slamet dapat diminimalisir dan kesejahteraan masyarakat terjaga.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us