Pemprov Jateng: Bencana longsor area Gunung Slamet bukan karena penambangan
Pemprov Jateng: Bencana Longsor Area Gunung Slamet Bukan Karena Penambangan
Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memastikan bahwa bencana tanah longsor yang terjadi di sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, tidak disebabkan oleh aktivitas penambangan. Kepastian tersebut diperoleh berdasarkan hasil tinjauan lapangan dan kajian teknis yang dilakukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng.
Kepala Dinas ESDM Jateng, Agus Sugiharto, di Semarang, Rabu (22/3), menyampaikan bahwa pihaknya secara intensif melakukan investigasi terkait longsor yang menelan korban jiwa dan infrastruktur. Berbagai data dan informasi dikumpulkan, termasuk hasil survei lokasi longsor, analisis peta geologi, serta wawancara dengan warga setempat.
“Hasil kajian kami menunjukkan bahwa faktor dominan penyebab longsor di lereng Gunung Slamet adalah curah hujan tinggi dan geomorfologi wilayah,” ujar Agus. Ia menjelaskan wilayah di lereng Gunung Slamet memiliki kondisi geografis berupa lereng curam dan berbatu yang rentan terhadap erosi.
Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan tanah menjadi gembur dan tidak mampu menahan tekanan air, sehingga terjadi longsor. “Faktor musim hujan yang lebat pada saat ini menjadi pemicu utama,” tegas Agus.
Meskipun tidak ditemukan bukti kuat keterlibatan aktivitas penambangan, Agus menegaskan bahwa Pemprov Jateng tetap berupaya meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di wilayah tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan agar terhindar dari potensi bencana alam.
“Kita tetap menekankan kepada masyarakat untuk menghindari aktivitas yang dapat merusak lingkungan, termasuk penambangan liar,” ucap Agus. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk aktif berperan dalam upaya pencegahan bencana longsor dengan menerapkan tata kelola lahan dan konservasi tanah yang baik.
Pemerintah Provinsi Jateng juga berkomitmen untuk membantu para korban bencana dengan menyediakan bantuan logistik, pangan, dan medis. Selain itu, Pemprov Jateng juga berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam upaya penanganan dan pemulihan pasca bencana.
Agus menyimpulkan bahwa meskipun bencana longsor merupakan peristiwa alam yang sulit diprediksi (Lead Matra), pola hidup dan aktivitas manusia dapat mempengaruhi tingkat dampaknya. “Masyarakat harus senantiasa meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam, serta berperan aktif dalam upaya pencegahan,” tutup Agus.
Catatan: Lead Matra adalah kutipan cikal bakal dari sebuah berita, biasanya berisi inti permasalahan.