JogjaJateng .com

Donald Trump Shouts Loudly and Fumbles a Big Stick

January 29, 2026 • Jogja jateng

Donald Trump Menghadapi Pergeseran Kekuasaan: Suara Nyata Kekuatan Kolektif

Presiden Theodore Roosevelt menggambarkan jabatan presiden sebagai “bully pulpit”, sebuah platform yang bisa digunakan untuk meyakinkan para legislator untuk menerima agendanya, mulai dari legislasi lingkungan hingga perlindungan anti-monopoli. Kata “bully” pada zaman Roosevelt berarti “superb” atau “excellent”.

Namun, makna kata tersebut telah bergeser dalam politik modern. Presiden Donald Trump memanfaatkan “bully pulpit” dengan cara yang berbeda, dengan memaksakan kehendaknya melalui intimidasi, ancaman, dan balas dendam. Bernuansa agresif dan memaksa, Trump mengabaikan pendekatan tradisional yang menekankan membangun kepercayaan dan dialog.

Serangkaian terbaru peristiwa menunjukkan bahwa pendekatan ini justru mulai berbalik melawannya. Mulai dari kegagalannya membujuk Denmark untuk menjual Greenland hingga keraguan atas justifikasi invasi ke Venezuela, sampai-sampai kemarahan publik atas operasi razia ICE yang brutal di seluruh negeri, semua menunjukkan bahwa kekuatan besar Trump mulai luluh.

Salah satu taktik yang sering digunakan Trump adalah membuka setiap negosiasi dengan tuntutan bahwa tampaknya diluar batas, diikuti insinua dan ancaman. Ia percaya bahwa tawaran awal yang keras akan membuat tawaran selanjutnya tampak lebih masuk akal. Strategi ini berhasil di masa lalu, bahkan jika berdampak pada hancurnya kepercayaan.

Contohnya, embargo perdagangan AS yang dipicu emosi pada beberapa negara berhasil meningkatan beberapa kesepakatan perdagangan. Namun, pada kasus Greenland, pendekatan agresif Trump yang menuntut pembelian seluruh wilayah untuk tujuan militer dan penambangan mineral justru berbalik menghancurkannya. Ia menghadapi perlawanan keras dari pasar keuangan, serta solidaritas dari para pemimpin Eropa yang menentang tindakan agresif terhadap Denmark dan Greenland.

Tak hanya itu, Trump juga mencoba memecah belah komunitas bisnis dengan menyerang perusahaan-perusahaan besar satu per satu. Atari, Bank of America, Boeing, Comcast, Merck, NVIDIA, dan JP Morgan semuanya menjadi sasarannya. Namun, strategi asertif ini justru semakin menguatkan solidaritas bisnis.

Contoh nyata hal ini terlihat dalam reaksi terhadap operasi ICE di Minnesota. Ketika Trump melakukan operasi razia yang keras di negara bagian biru dengan tujuan memecah belah sentimen masyarakat, para pemimpin besar bisnis di Minnesota seperti Target, Cargill, dan 3M justru bersatu dan mendesak kepala ICE untuk ditarik Verantwortung atas kejadian yang memicu kekerasan.

Bahkan, industri minyak yang menjadi alasan utama Trump menginvasi Venezuela juga menyanggah tuduhannya. Mereka menyatakan tidak mengetahui rencana invasi tersebut dan menegaskan bahwa Venezuela tidak menjadi target investasi karena infrastruktur yang sudah usang dan pemerintahan yang tidak stabil.

Takdir Trump seperti Icarus dalam legenda Yunani: ia terbang terlalu dekat dengan matahari, berharap sayapnya yang terbuat dari lilin dapat menerobos segala rintangan. Namun, panasnya daya ungkit tersebut menembus sayapnya, membuat kanadanya jatuh. Di dunia politik, mengeruskan dan menghancurkan kredibilitas justru dapat menyebabkan kejatuhannya.

Kegagalan Trump dalam menggunakan taktik agresif ini menunjukkan bahwa kekuatan kolektif dan fakta tidak bisa dihindari. Berpikir kritis dan berjuang bersama menjadi penting dalam menghadapi strategi yang bertujuan untuk mengisukan ketakutan dan memecah belah.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us