JogjaJateng .com

U.S. Exit from Paris Agreement Deepens Climate Vulnerability for the Rest of the World

January 31, 2026 • Jogja jateng
U.S. Exit from Paris Agreement Deepens Climate Vulnerability for the Rest of the World

Kepulangan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris Memperburuk Kerentanan Iklim bagi Dunia

Penetapan resmi Amerika Serikat untuk keluar dari Perjanjian Paris pada 27 Januari ini membawa dampak signifikan bagi upaya global dalam mengatasi perubahan iklim. Keputusan tersebut, menyusul setahun dipenuhi dengan pembatalan regulasi lingkungan dan upaya pemerintahan Donald Trump untuk menghancurkan kebijakan iklim federal, diprediksi akan menimbulkan efek domino yang luas.

Perjanjian Paris, yang dirumuskan pada tahun 2015, merupakan kesepakatan internasional untuk mengurangi pemanasan global dan memperkuat ketahanan negara-negara terhadap dampak perubahan iklim. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, peran Amerika Serikat terangkai vital dalam mencapai sasaran tersebut.

“Kepindahan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris adalah sebuah pukulan keras bagi perundingan internasional,” ujar [Nama Juru Bicara], seorang pakar lingkungan dari sebuah lembaga riset kebijakan. “Akibatnya tidak hanya akan memperlambat kemajuan dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga dapat mengancam komitmen negara-negara lain yang masih terikat dengan kesepakatan ini.”

Sehubung dengan keputusan ini, kekhawatiran pun semakin mengganas mengenai akselerasi degradasi lingkungan, kehilangan keanekaragaman hayati, dan peningkatan risiko terhadap kesehatan, keselamatan, dan pembangunan jangka panjang manusia. Negara-negara berkembang, khususnya di wilayah-wilayah tropis, diprediksi akan paling terdampak garis depan perubahan iklim.

“Sudah pasti, negara-negara miskin dan rentan akan merasakan beban terberat dari pengunduran diri Amerika Serikat,” ungkap [Nama Ahli Kebijakan], “Mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi, tetapi justru paling mudah terpapar terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari banjir, kekeringan, hingga penyakit menular.

Meskipun China, India, dan Uni Eropa berada di garis depan isu perubahan iklim dan telah meningkatkan komitmen untuk mengurangi emisi, kedudukan strategis Amerika Serikat dalam perekonomian global dan kepemimpinannya di panggung internasional membuat dampak mundurnya sangat signifikan.

Keputusan ini juga menimbulkan pertanyaan besar tentang komitmen jangka panjang Amerika Serikat dalam memerangi perubahan iklim. Melihat komitmen yang terbilang lemah dalam tahun-tahun terakhir, beberapa pihak mempertanyakan apakah Amerika Serikat, di bawah pemerintahan baru, akan kembali ke Perjanjian Paris atau akan memprioritaskan kebijakan yang berdampak negatif bagi lingkungan.

“Masa depan Perjanjian Paris menjadi lebih suram tanpa partisipasi aktif Amerika Serikat,” ujar [Nama Ekonom] “Tetapi, kita juga perlu melihat apakah dengan transformasi politik dalam negeri, Amerika Serikat akan bisa berubah arah dan kembali ke jalur yang benar dalam menjaga planet kita.”

Keputusan Amerika Serikat untuk keluar dari Perjanjian Paris dihadapkan dengan reaksi beragam dari negara-negara lain. Beberapa negara mengekspresikan keprihatinan dan mengkritik langkah tersebut, sementara yang lainnya menegaskan komitmen mereka untuk menjalankan Perjanjian Paris terlepas dari keputusan Amerika Serikat.

Akhirnya, masa depan Perjanjian Paris dan upaya global dalam memerangi perubahan iklim tergantung pada berbagai faktor, termasuk upaya negara-negara lain untuk meningkatkan komitmen mereka, dukungan sektor swasta untuk investasi berkelanjutan, dan perubahan sikap politik di Amerika Serikat.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us