Warga lereng Sumbing menggelar tradisi srobong gobang
Warga Lereng Sumbing Gelar Tradisi Nyadran dan “Srobong Gobang”
Temanggung – Kehidupan di lereng Gunung Sumbing, Desa Tlilir, Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung ternyata diwarnai beragam tradisi unik dan menarik. Salah satunya adalah tradisi “nyadran” dan “srobong gobang” yang telah diwariskan turun temurun oleh para leluhur.
Tradisi ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan sebagai momentum penting bagi masyarakat untuk membersihkan diri dan menyingkirkan hal-hal negatif, baik secara lahir maupun batin. “Nyadran dan jamasan srobong gobang adalah tradisi yang sudah tak terpisahkan dari budaya masyarakat Desa Tlilir. Diharapkan, dengan melakukan tradisi ini, kita semua dapat membersihkan hati dan kembali berbuat baik,” ujar Kepala Desa Tlilir, Faturohman, di Temanggung, Jumat (20/10).
Prosesi nyadran sendiri, menurut Faturohman, dilakukan dengan upacara adat yang khas. Selesai melaksanakan sholat Isya, warga berkumpul bersama di sebuah tempat yang telah ditentukan. Kemudian, mereka masing-masing membawa sesajen berupa makanan dan minuman. Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan lantunan ayat suci Al-Quran yang dipimpin oleh seorang kabiir atau tokoh agama setempat.
Setelah kegiatan nyadran selesai, warga kemudian beraktivitas membersihkan dan merawat alat “srobong gobang”. “Srobong gobang” sendiri merupakan alat tradisional untuk memotong tembakau.
Dilaksanakan dengan ritual khusus dan kekeluargaan, proses membersihkan “srobong gobang” diyakini dapat membawa keberuntungan bagi seluruh masyarakat desa. Warga saling bahu membahu membersihkannya dengan air dan daun pandan. Proses ini juga diiringi doa agar para petani dan pengusaha rokok yang ada di desa dapat diberikan keberkahan dan keselamatan dalam bekerja.
“Srobong gobang ini bermakna penting bagi warga. Dipercaya, alat ini sebagai simbol kegiatan ekonomi utama di desa ini. Dengan membersihkannya, kita memohon keselamatan dan kesuksesan dalam usaha,” ungkap seorang warga, Suplan.
Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi yang mempererat tali persaudaraan antar warga. Mereka berbagi cerita, makanan ringan, dan saling berbagi rezeki dalam suasana yang hangat dan bahagia.
Faturohman berharap tradisi nyadran dan “jamasan srobong gobang” ini akan terus dilestarikan oleh generasi mendatang. “Tradisi ini adalah warisan budaya yang berharga dan memiliki banyak makna untuk masyarakat. Kita harus selalu menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang kita,” pungkasnya.
Tradisi unik ini menjadi bukti bahwa masyarakat lereng Gunung Sumbing mampu menjaga kelestarian budaya yang mereka miliki. Diharapkan, tradisi yang menjadi identitas lokal ini akan terus lestari dan menjadi daya tarik bagi siapapun yang datang berkunjung ke Desa Tlilir.