A woman dies from cervical cancer every two minutes, UN says
Seorang Wanita Meninggal Akibat Kanker Serviks Setiap Dua Menit, Ucapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa
Jakarta – Kaner serviks merupakan ancaman nyata bagi kesehatan wanita di seluruh dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan data memprihatinkan: seorang wanita meninggal akibat kanker serviks setiap dua menit.
Secara global, sekitar 604.000 kasus kanker serviks terdiagnosis setiap tahun, dan lebih dari 342.000 kematian terkait dengan penyakit ini dilaporkan. Hal ini menempatkan kanker serviks sebagai kanker kedua paling mengorbankan wanita di dunia, setelah kanker payudara.
Ketidaksetaraan akses terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk vaksinasi HPV dan skrining, menjadi faktor utama yang berkontribusi pada angka kematian yang tinggi. Perubahan gaya hidup, seperti kebiasaan merokok dan lemahnya sistem imun, juga berperan dalam peningkatan risiko kanker serviks.
Jeanette, seorang wanita berusia 31 tahun, memahami betul ancaman kanker serviks. Ia baru-baru ini didiagnosis dengan kanker serviks dan kini menjalani pengobatan yang panjang dan melelahkan. “Ibu bertanya, ‘Akankah aku bisa punya anak lagi?’ Saya takut kehilangan kesempatan untuk menjadi ibu lagi,” cerita Jeanette. Fertilitas dan kesempatan untuk memiliki anak adalah beberapa kekhawatiran utama Jeanette di tengah perjuangan melawan kanker.
Situasi Jeanette bagaikan cerminan yang menggambarkan realitas ribuan wanita di seluruh dunia. Selain ancaman kematian, kanker serviks juga membawa beban fisik, emosional, dan finansial bagi penderita dan keluarganya.
Unicef Indonesia mengatakan, pencegahan dan deteksi dini adalah kunci dalam memerangi kanker serviks. Vaksinasi HPV, yang dapat melindungi terhadap sebagian besar strain virus human papillomavirus yang memicu kanker serviks, merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan perempuan muda.
Dr. Rahmawati, ahli onkologi dari Kementerian Kesehatan, menekankan perlunya skrining dini, “Pemeriksaan rutin melalui Pap Smear dapat mendeteksi awal kanker serviks. Semakin cepat didiagnosis, semakin besar peluang untuk kesembuhan.”
Selain vaksinasi dan skrining, penting juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko dan gejala kanker serviks. Informasi ini dapat membantu wanita lebih aktif dalam menjaga kesehatan reproduksi mereka dan melakukan pemeriksaan rutin.
Upaya pemerintah Indonesia telah ditunjukkan melalui beberapa program kesehatan reproduksi dan kanker serviks. Namun, masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan akses layanan pencegahan dan pengobatan berkualitas bagi seluruh wanita, termasuk di daerah terpencil.
Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, ahli medis, organisasi kesehatan, hingga masyarakat. Edukasi, aksesibilitas layanan kesehatan, dan penegakan hak kesehatan reproduksi bagi wanita merupakan langkah-langkah penting dalam menyelamatkan lebih banyak nyawa dari kanker serviks di Indonesia.
Meningkatkan kesadaran, memastikan akses terhadap layanan, dan memerangi ketidaksetaraan akses kesehatan merupakan kunci untuk mengurangi angka kematian akibat kanker serviks dan menciptakan masa depan yang lebih sehat bagi perempuan di Indonesia.