JogjaJateng .com

Another of Trump’s Quixotic Imperial Designs

January 26, 2026 • Jogja jateng
Another of Trump’s Quixotic Imperial Designs
Malam Sebuah Imajinasi Lagi: Dewan Perdamaian Donald Trump dan Kegagalan Mediasi Global

NEW YORK – Di tengah ketegangan perang Israel-Hamas, nama Donald Trump kembali masuk dalam fokus. Mengakui kegagalan Organisasi PBB dalam menyelesaikan konflik-konflik yang menurutnya telah ia selesaikan, mantan Presiden Amerika Serikat itu mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian di bawah kepemimpinannya.

Pembentukan Dewan Perdamaian ini diluncurkan dalam sebuah konferensi pers di Forum Ekonomi Dunia Davos dan kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih. Trump menyatakan, “PBB seharusnya sudah menyelesaikan setiap konflik yang telah saya selesaikan. Saya tidak pernah meminta bantuan mereka. Bahkan tidak terpikir untuk melakukannya.”

Gagasan membentuk Dewan Perdamaian dan pernyataan Trump tersebut menuai beragam reaksi. Banyak pihak mengapresiasi inisiatifnya untuk membawa kedamaian, namun sekaligus mengkritik pernyataan yang seolah-olah menduga PBB tidak mampu menyelesaikan konflik.

Kritik pun datang dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan peneliti konflik. Mereka berpendapat, pernyataan Trump cenderung meremehkan peran PBB dan mengabaikan kompleksitas berbagai konflik yang melibatkan berbagai pihak.

“PBB memang memiliki kelemahan dalam mengelola konflik,” ujar Prof. Arief, seorang pakar hubungan internasional. “Namun, ia tetap memiliki peran penting sebagai forum diplomasi dan mediator. Mengatakan PBB tidak mampu menyelesaikan konflik adalah generalisasi yang tidak tepat.”

Lebih lanjut, ia menjelaskan, konflik-konflik yang diklaim telah diselesaikan oleh Trump memiliki kompleksitas dan sejarah panjang yang tidak terselesaikan hanya dengan intervensi personal.

“Setiap konflik memiliki akar masalah yang kompleks dan membutuhkan pendekatan institusioanal yang berkelanjutan. Perdamaian yang hanya bersifat sementara dan dicapai melalui intervensi personal, bisa saja hilang begitu saja jika akar masalah tidak terselesaikan,” jelas Prof. Arief.

Deklaringsikan pembentukan Dewan Perdamaian tanpa penjelasan detail mengenai struktur, authority, dan mekanisme kerjanya pun dipertanyakan.

“Apakah Dewan Perdamaian ini akan beroperasi secara independent atau dalam lingkup kepentingan pribadi Trump? Bagaimana ia akan memperoleh legitimasi dan kepercayaan dari para pihak yang terlibat dalam konflik?,” tanya pakar politik, Dr. Rini.

Banyak pihak menganggap pembentukan Dewan Perdamaian Trump sebagai langkah yang naif dan tidak realistis. Mereka meragukan efektivitasnya dalam menyelesaikan konflik dengan kompleksitas yang terjadi di sana. Pakar-pakar berpendapat bahwa pendekatan Trump yang personalistis, cenderung mengabaikan proses diplomasi dan diplomasi multilateral yang sudah menjadi bagian dari sistem internasional yang telah berlaku.

Meskipun berniat baik, langkah pembentuk Dewan Perdamaian Trump dilandasi oleh keyakinan yang cenderung subjektif dan kurang memahami kompleksitas dunia internasional. Pendekatan yang terkesan sederhana namun mengabaikan mekanisme dan proses yang kompleks justru berpotensi mengacaukan situasi dan menciptakan ketegangan yang lebih besar.

Semoga Dewan Perdamaian ini dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia, Namun, melihat lonjakan dekonstruksi sistem dan institusi internasional dewasa ini, banyak pihak yang meragukan kemampuannya untuk meraih tujuan yang diharapkan.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us