Beyond Shifting Power: Rethinking Localisation Across the Humanitarian Sector
Melebihi Pemindahan Kekuasaan: Merevisi Lokal dalam Sektor kemanusiaan
ABUJA, Nigeria – Selama satu dekade terakhir, banyak pihak di sektor bantuan asing menekankan pentingnya lokalisasi. Suara-suara ini semakin lantang dalam 5 tahun terakhir. Para pemangku kepentingan mulai menyadari bahwa upaya bantuan kemanusiaan yang efektif membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat lokal.
Lebih dari Sekadar Pemindahan Kekuasaan
Konsep lokalisasi menekankan pada partisipasi aktif negara penerima dana dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program bantuan kemanusiaan. Ini berarti menyerahkan kendali dan sumber daya kepada organisasi lokal dan masyarakat yang paling memahami kebutuhan mereka.
Namun, lokalisasi ini bukanlah sekadar pemindahan kekuasaan dari donor internasional ke aktor lokal.
“Lokalisi adalah tentang kolaborasi sejati, tentang membangun hubungan yang setara dan berkelanjutan Jogjajateng.com aktor lokal dan internasional,” ujar Nama , seorang aktivis lokal di sektor kemanusiaan.
Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Kita tidak hanya sekadar menginginkan dana untuk dijalankan oleh organisasi lokal, tapi juga menginginkan dukungan dalam membangun kapasitas, seperti pelatihan dan transfer pengetahuan.”
Tantangan dan Peluang Lokal
Meskipun konsep lokalisasi sangatlah penting, implementasinya di lapangan seringkali dihadapkan dengan berbagai tantangan. Misalnya, keterbatasan sumber daya, kurangnya infrastruktur, dan kurangnya pengetahuan teknis masih menjadi kendala bagi beberapa organisasi lokal.
Selain itu, temuan lapangan menunjukkan bahwa kemampuan finansial organisasi lokal masih lemah. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti akses yang terbatas terhadap pendanaan dan kurangnya kapasitas untuk mengelola dana dengan efektif.
Nama, aktivis lokal lainnya, menambahkan, “Tantangan besar bagi aktor lokal adalah memastikan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana. Keberhasilan lokalisasi bergantung pada kepercayaan dan dukungan dari donor internasional.”
Namun, di balik tantangan-tantangan ini, terdapat peluang yang besar untuk membangun sistem bantuan kemanusiaan yang lebih berkelanjutan dan efektif.
Organisasi asing perlu berkomitmen untuk benar-benar memfasilitasi keterlibatan aktif negara penerima dana, bukan hanya sekadar memberikan dana tanpa pengawasan.
“Donor internasional harus lebih memahami konteks dan kebutuhan lokal, serta memberikan dukungan yang tepat sasaran,” kata Nama . “Kesinambungan bantuan kemanusiaan tidak hanya terletak pada pelibatan organisasi lokal, tetapi juga pada kemampuan mereka untuk menjadi aktor pelopor dalam pembangunan kemanusiaan.”
Mengembangkan Kemajuan Berkelanjutan
Pemerintah dan organisasi internasional harus berupaya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan sektor kemanusiaan lokal.
Salah satunya adalah dengan dukungan terhadap pengembangan kapasitas organisasi lokal, seperti menyediakan pelatihan dan akses terhadap kesempatan belajar.
Penelitian dan evaluasi yang berkelanjutan perlu dilakukan untuk memahami baik tantangan maupun peluang lokalisasi di setiap konteks geografis.
Dengan melihat lokalisasi sebagai proses panjang dan berkelanjutan, sektor kemanusiaan dapat bergerak menuju sebuah sistem yang lebih akuntabel, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana atau konflik.