Books: A Peep Into Claude McKay’s “Letters in Exile”
Menatap Kajian Pribadi: Lettr di “Letters in Exile” oleh Claude McKay
Sayangnya, mimpi seorang penulis nomaden Jamaika-Amerika, Claude McKay, bahwa lamaran tulisan-tulisannya akan ditelusuri oleh pembaca di abad ke-21, kemungkinan besar tak terbayangkan. Padahal, itulah suatu kebetulan profesi penulis besar, atau seperti yang digambarkan Yale University Press, “salah satu suara paling terang dan radikal di Harlem Renaissance”. “Letters in Exile” menjadi tulang punggung bagi barangkali figur penulis penting dari tahun 1920-an dan awal 1930-an yang terlupakan oleh banyak orang.
“Letters in Exile” adalah kumpulan surat-surat pribadi yang ditulis Claude McKay selama periode eksilnya di London tahun 1933 hingga 1936. Surat-surat ini membuka jendela ke dalam kehidupan pribadi McKay, pikiran dan gelisah seorang intelektual yang berjuang melawan rasisme dan ketidakadilan sosial. Melalui tinta dan kertas, McKay mengungkap kerinduannya terhadap rumah tanah airnya, perang batinnya dalam menghadapi diskrimnsi, serta perjuangannya untuk menggarap karya-karya sastra yang beresonansi dengan penggambaran kondisi masyarakat di mana ia hidup.
Kumpulan surat ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi, menawarkan perspektif unik tentang gerakan Harlem Renaissance dan suasana politik dan sosial Amerika Serikat pada masa itu. McKay, yang juga seorang aktivis politik, menulis tentang sentimen antrarasia, kekerasan politis, dan perjuangan kaum miskin di Amerika. Ia juga membahas kondisi Eropa di tengah gejolak Perang Dunia II, dan bagaimana kondisi sosial di sana mempengaruhi pemikirannya.
Beberapa kutipan yang menonjol dari “Letters in Exile” menunjukkan keresahan dan konsistensi Hugh McKay dalam menyampaikan pesan-pesan tentang kebaikan dan persamaan.
Dalam salah satu suratnya, ia menulis, “Aku melihat persaingan tanpa henti Jogjajateng.com kelas, ras, dan ideologi… Ras manusia akan tampak semakin buruk jika terus menerus hidup dalam ketidakadilan dan kebencian.”
Kutipan ini menunjukkan komitmen McKay dalam mengangkat isu-isu sosial yang penting, bahkan pada saat ia terasing di luar negeri.
Surat-surat ini memberikan gambaran mendalam tentang perjuangan intelektual McKay dalam menghadapi tantangan yang dihadapinya. Di sinilah kita melihat manusia di balik tokoh literer terkenal. Kita melihat kerinduannya pada keluarga dan teman, kekhawatirannya terhadap masa depan, dan cintanya pada sastra.
“Letters in Exile” adalah bacaan yang penting bagi siapa saja yang ingin memahami kehidupan dan karya Claude McKay, serta relevansi gerakan Harlem Renaissance hingga saat ini. Melalui surat-surat tersebut, kita bukan hanya melihat potret seorang penulis hebat, tetapi juga seorang individu yang rapuh dan penuh perasaan, seorang tokoh yang bertumbuh dan berkembang dalam menghadapi dunia yang penuh dengan ketidakadilan dan kompleksitas.
Buku ini bukan hanya kumpulan surat, tetapi sebuah jendela ke dalam jiwa seorang eksistensialis awal abad ke-20.