JogjaJateng .com

Bridgerton’s Long-Awaited Benedict Season Plays It Too Safe

January 29, 2026 • Jogja jateng
Musim Baru "Bridgerton" Terlalu Bermain Aman

Setelah empat musim, kita sudah tahu gambaran tentang sepasang episode “Bridgerton”: dunia sosial London Regency yang penuh glamour, para bangsawan muda yang mencari jodoh, drama berkepanjangan yang disinyalir oleh Ratu yang haus akan sensasi, dan Lady Whistledown, penulis gosip anonim yang menuliskan semua kejadian tersebut. Setiap musim mengikuti kisah salah satu dari delapan bersaudara Bridgerton yang kaya raya dan tampan. Setiap cinta dimulai dengan pertemuan yang tak terduga, berkembang dalam fase tarik-menarik yang menegangkan, memuncak dengan gairah yang terpendam, dan berakhir dengan penyelesaian konflik serta kebahagiaan dalam pernikahan.

Formula ini memang sudah familiar, namun kedengarannya menyenangkan. Cerita romantika selalu sukses dengan akhir bahagia, dan genre fiksi memberikan rasa nyaman dalam kejelasannya. Meskipun demikian, di musim kelima perjalanannya yang panjang, formula “Bridgerton” mulai terlihat usang. Musim terbaru ini berfokus pada Benedict Bridgerton, yang digambarkan oleh Luke Thompson sebagai seorang seniman yang menantang norma.

sayangnya, alih-alih memberikan sesuatu yang baru,
musim ini malah mengikuti jalan cerita yang sudah terlampau familiar. Seperti pertunjukan yang nyaman tapi kurang bertenaga, “Bridgerton Season 4” masih menyenangkan untuk ditonton, tetapi terasa hambar dan kurang berani dalam hal inovasi. Benedict, yang sebelum ini digambarkan sebagai seorang play boy yang tidak peduli dengan norma sosial, justru menjadi protagonis dalam kisah cinta yang klasik.

Musim ini dibuka dengan momen penting di dunia sosial Mayfair: Lady Whistledown akhirnya terbongkar sebagai Penelope Featherington (Nicola Coughlan). Torment dia kini menjadi seorang istri setia dan ibu dengan rahasia yang tersembunyi di balik identitasnya sebagai Lady Whistledown.

Kehadiran Benedict sebagai tokoh utama dalam musim ini membawa harapan akan perubahan, namun sepertinya harapan tersebut pun hancur. Hal ini semakin terasa ketika Benedict justru bertemu dengan Sophie (Yerin Ha), karakter dengan latar belakang Cinderella yang autentik.

Karakter Sophie ini sendiri merupakan versi modern anak gadis yang ditolak oleh umurkknya. Ia adalah seorang anak pemberani dan cerdas yang mencoba untuk tidak terkungkung dalam ekspektasi sosial. Kehadiran Sophie membawa komitmen “Bridgerton” dalam penyampaian feminisme modern, tetapi sayangnya mengganggu dinamika awal ceritanya.

Lebih lanjut, alur penunjang lain juga terasa kurang menarik dan bahkan cenderung mengulang plot yang sudah kita kenal sebelumnya, seperti kisah Francesca (Hannah Dodd) dan John, Earl of Kilmartin, dan kisah Violet dengan Lord Anderson (Daniel Francis).

Meskipun “Bridgerton Season 4” memiliki unsur-unsur yang sudah kita kenal dan sukai seperti kostum, dinamika keluarga Bridgerton, kemewahan setiap pesta, narasi Whistledown yang tajam, serta chemistry yang tercipta Jogjajateng.com Thompson dan Ha, namun keunikan dan keberanian seringkali terasa hilang. “Bridgerton” masih menghibur, namun sepertinya kini stuck dalam rutinitas yang kurang menantang.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us