JogjaJateng .com

Can workers compete with machines and stay relevant in the AI era?

January 31, 2026 • Jogja jateng
Can workers compete with machines and stay relevant in the AI era?
Bisakah Pekerja Bersaing dengan Mesin dan Tetap Relevan di Era AI?

Kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan akan membawa perubahan besar bagi seluruh umat manusia, namun juga memicu risiko pemutusan hubungan kerja dan memperlebar kesenjangan sosial serta ekonomi. Para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) fokus pada bagaimana mengelola transisi ini, agar manfaat teknologi ini melebihi ancaman.

Era AI telah tiba dan menandai awal transformasi signifikan dalam berbagai sektor. Dari otomatisasi industri hingga asistensi layanan pelanggan, AI terus mengubah cara kita bekerja dan hidup. Potensi manfaatnya besar, termasuk peningkatan produktivitas, solusi pemecahan masalah yang lebih cerdas, dan aksesibilitas layanan baru.

Namun, di balik pesona AI, muncul kekhawatiran serius terkait dampaknya terhadap tenaga kerja. Keahlian manusia yang sebelumnya menjadi keunggulan kini terancam tergantikan oleh mesin yang mampu mengolah data dan menyelesaikan tugas dengan kecepatan dan efisiensi yang jauh lebih tinggi.

“Pergeseran teknologi memang selalu menimbulkan tantangan bagi pekerja,” kata seorang pakar ekonomi dan tenaga kerja kepada Kompas, “Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan peluang AI sekaligus meminimalisir dampak negatifnya pada kehidupan dan mata pencaharian masyarakat.”

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah risiko pengangguran massal. Pekerjaan yang berpotensi terdampak paling signifikan adalah pekerjaan yang bersifat rutin dan repetitive. Namun, dampaknya tidak hanya terbatas pada tenaga kerja low-skill, pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan tinggi juga berisiko tergantikan oleh AI.

Langkah mitigasi yang dipelopori PBB melibatkan dua fokus utama: perubahan kurikulum pendidikan dan pengembangan keterampilan kerja.

Di Indonesia, pemerintah dan lembaga pendidikan di berbagai jenjang mulai berfokus pada pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan era AI. Meningkatkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas menjadi aspek vital dalam pendidikan masa kini.

“Kita perlu memastikan generasi penerus memiliki kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dan bahkan memimpin di era AI,” ujar seorang perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada CNN Indonesia. “Pendidikan sepanjang hayat juga menjadi kunci.”

Selain pendidikan, program pelatihan dan reskilling juga dibutuhkan untuk membantu pekerja yang terancam terdampak oleh AI. Pemerintah dan sektor swasta dapat bekerja sama untuk memberikan pelatihan dan kesempatan bagi pekerja untuk mempelajari keterampilan baru yang relevan dengan dunia kerja di era AI.

Transformasi teknologi sememangnya membawa tantangan, namun juga peluang baru.

Merencanakan transisi secara bijaksana dan proaktif menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat AI dan meminimalisir risiko dampak negatifnya. Pekerja yang adaptif, terus belajar, dan mengembangkan keterampilan baru, akan lebih mampu bersaing di era AI dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us