JogjaJateng .com

COP30 Fails the Caribbean’s Most Vulnerable, Leaders Say: ‘Our Lived Reality Isn’t Reflected’

December 1, 2025 • Jogja jateng
COP30 Fails the Caribbean’s Most Vulnerable, Leaders Say: ‘Our Lived Reality Isn’t Reflected’

COP30 Gagal Memenuhi Kebutuhan Kepulauan Karibia, Para Pemimpin: ‘Realita yang Kita Tahu Tidak Direfleksikan’

Castries, Saint Lucia – Kepulauan Karibia, negara-negara kepulauan kecil yang paling rentan terhadap perubahan iklim, mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap COP30. Konferensi perubahan iklim PBB ini, yang baru saja usai di Saint Lucia, dianggap gagal dalam memberikan respons darurat dan ambisi yang dibutuhkan untuk mengatasi kerusakan akibat iklim yang semakin parah di wilayah tersebut.

Para pemimpin dari negara-negara Karibia menyatakan bahwa COP30 tidak mencerminkan realita yang mereka hadapi setiap hari. Mulai dari lambatnya skema pembiayaan iklim hingga kebuntuan politik yang menghambat percepatan aksi global, COP30 dianggap tidak bereaksi terhadap mendesaknya ancaman perubahan iklim bagi wilayah mereka.

“Ketidakmampuan untuk mencapai kesepakatan serius dan konkrit mengenai skala pembiayaan untuk mitigasi dan adaptasi bagi negara-negara paling rentan ini sangat mengecewakan,” ujar pemimpin dari salah satu negara kepulauan Karibia dalam pidato mereka. “Kita hidup dengan ancaman banjir, erosi pantai, dan kerusakan ekosistem, sementara keputusan global terjebak dalam penundaan.”

Salah satu fokus utama yang mengecewakan bagi negara-negara Karibia adalah investasi yang minim dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Para pemimpin menekankan bahwa mereka membutuhkan dukungan finansial yang substansial untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang telah mereka rasakan, seperti kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem.

“Kami memerlukan investasi yang nyata, bukan janji kosong. Kita perlu modal untuk membangun benteng laut, mengembangkan infrastruktur rehabilitasi, dan memulihkan ekosistem kami,” tegas seorang pejabat pemerintah dari negara kepulauan lain.

Selain pembiayaan, para pemimpin juga mempertanyakan partisipasi negara-negara maju dalam berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Mereka menekankan bahwa aksi agresif dari negara-negara emisi tinggi, seperti yang di-janjikan dalam Perjanjian Paris, adalah kunci untuk meminimalkan dampak perubahan iklim di seluruh dunia.

“Kesepakatan global yang kuat dan ambisius tidak berguna jika tidak diiringi dengan tindakan nyata. Kita membutuhkan kepemimpinan global yang serius untuk melawan krisis iklim ini,” ujar seorang aktivis lingkungan dari negara kepulauan Karibia.

COP30 dianggap sebagai kesempatan krusial untuk memperkuat upaya global dalam mengatasi perubahan iklim, khususnya bagi negara-negara kepulauan yang paling rentan. Kekecewaan yang dirasakan oleh para pemimpin Karibia menunjukkan bahwa banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan untuk memastikan bahwa perjanjian internasional mengenai perubahan iklim memberikan manfaat yang nyata bagi mereka yang paling membutuhkan.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us