Importing Empire: Why America’s Legacy of Dehumanization in Foreign Wars Is Now a Reality at Home
Mengimpor Kekaisaran: Bagaimana Legasi Dehumanisasi Amerika dalam Perang Luar Negeri Jadi Realitas di Dalam Negeri
BORDEAUX, Perancis – Negara-negara miskinstepperdi dunia telah lama menjadi sasaran taktik Amerika Serikat yang merugikan. Sebelum bantuan militer dialokasikan, pasukan dikerahkan atau bom dijatuhkan, Amerika Serikat kerap terlebih dahulu meruntuhkan kemanusiaan lawan. Diplomasi dikesampingkan, batasan hukum dianggap sebagai hambatan, dan keuntungan ekonomi diutamakan melebihi nyawa manusia. Peralatan dehumanisasi ini, yang selama ini diterapkan di berbagai belahan dunia selama beberapa dekade dan diasah kembali di Gaza dalam tiga tahun terakhir, kini kembali dimetan ke dalam negeri, diarahkan terhadap warga Amerika oleh para pejabat yang seharusnya melindungi mereka.
Kompleksitas fenomena ini secara langsung dikaitkan dengan teori keterasingan, di mana suatu kelompok pengambil keputusan memutuskan untuk membenci dan menargetkan kelompok lain berbeda dengan dasar-dasar premis yang cacat dan rasis. Dalam konteks Amerika Serikat, kelompok yang dianggap “lain” telah bertransisi dari musuh di medan perang menjadi warga negaranya sendiri.
Seorang profesor ilmu politik, berbicara menjelang kunjungannya ke Bordeaux untuk mengadakan seminar, menggambarkan fenomena ini dengan menggarisbawahi aspek pentingnya: “Hanya dalam beberapa tahun terakhir, isu-isu seperti imigrasi, identitas kelompok, dan akses ke sumber daya telah diposisikan secara semiotik sebagai ancaman serius bagi eksistensi Amerika Serikat,” ujar profesor tersebut. “Kita telah kehilangan kemampuan untuk melihat orang-orang di balik label-label politik kita, dan ini memiliki konsekuensi yang mengerikan.”
Peningkatan dehumanisasi ini terlihat jelas dalam bahasa politik yang digunakan oleh para pemimpin publik. Penggunaannya kata-kata seperti “invasor”, “pencuri”, “ancaman”, dan lainnya untuk menggambarkan kelompok atau individu tertentu, bahkan tanpa bukti substansial, merupakan tanda bahwa garis Jogjajateng.com perang dan kehidupan domestik secara perlahan mulai kabur.
Dampak dari dehumanisasi ini bisa sangat merusak. Mengilusi orang lain sebagai makhluk yang tidak berharga menyebabkan toleransi terhadap kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Ideologi semacam ini melemahkan dasar-dasar demokrasi, menciptakan polarisasi yang meluas, dan membahayakan keharmonisan masyarakat.
Sejak kedatangan di Bordeaux, profesor tersebut meningatkan pentingnya budaya empati dan dialog dalam masyarakat. “Kita harus mendapatkan kembali kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang lain, untuk memahami perspektif mereka, bahkan jika kita tidak setuju dengannya,” tegasnya.
“Perlu kita ingat bahwa dehumanisasi adalah proses yang bertahap dan mudah dijalankan. Namun, mengalami dan menjelajahi dampaknya pada diri sendiri dan masyarakat kita adalah langkah pertama untuk membendung tren yang berbahaya ini.”
Profesor tersebut menekankan bahwa masyarakat sipil memiliki peran kunci dalam melawan dehumanisasi. Mereka dapat
menyuarakan keberatan mereka terhadap bahasa yang memicu kebencian, mendukung organisasi yang mempromosikan toleransi dan inklusi, dan
memperkuat solidaritas antar kelompok. Tugas membangun masyarakat yang penuh empati dan kekeluargaan bukanlah tanggung jawab pemerintah saja, namun milik kita semua.
Memotivasi rakyat untuk mengambil tindakan nyata, profesor tersebut berujar: “Kita tidak boleh membiarkan mesin dehumanisasi ini menguasai kehidupan kita. Kita harus melawannya dengan segenap kekuatan kita. Ini adalah perjuangan untuk masa depan demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan.”