Millions of jobs at risk in Asia-Pacific as AI adoption surges in wealthy nations
jutaan Pekerjaan Terancam di Asia Pasifik Seiring Gebrakan AI di Negara Kaya
Jakarta, 2 Desember 2023. Mellions pekerjaan di wilayah Asia-Pasifik terancam hilang seiring dengan pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di negara-negara maju. Klausul ekonomi PBB menyatakan, sementara negara-negara maju mengadopsi AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, negara-negara berkembang di Asia Pasifik tertinggal dalam menyediakan akses digital dan literasi digital yang memadai.
“Adopsi AI yang cepat di negara-negara maju memperburuk ketimpangan digital dan ekonomi di kawasan Asia Pasifik,” ungkap seorang ekonom PBB , dalam sebuah pernyataan resmi. “Pekerja di negara-negara berkembang, yang umumnya terfokus pada sektor manufaktur dan layanan, berada pada risiko kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi yang dilakukan oleh AI.”
Perkembangan ini terjadi di tengah gejolak ekonomi global yang disertai inflasi dan perlambatan pertumbuhan. Dampaknya, parahnya ketimpangan dan potensi pengangguran massal di beberapa negara berkembang cukup mengkhawatirkan.
“Perkembangan AI membawa peluang signifikan, namun hal ini juga menciptakan tantangan serius bagi pekerja di negara-negara berkembang,” imbuh ekonom tersebut. “Kebutuhan tenaga kerja di masa depan akan bergeser, dan banyak pekerja saat ini mungkin tidak memiliki keahlian yang diperlukan untuk bekerja di sektor ekonomi yang driven oleh AI.”
Tantangan Akses dan Pendidikan
Salah satu hambatan utama bagi pekerja di Asia Pasifik untuk memanfaatkan peluang AI adalah akses terhadap teknologi dan pendidikan digital yang terbatas.
Menurut Laporan Digital 2023 dari Hootsuite dan We Are Social, akses internet di Asia Pasifik masih belum merata. Meskipun banyak negara di kawasan ini telah mengalami peningkatan signifikan dalam akses internet, masih terdapat kesenjangan yang besar Jogjajateng.com negara maju dan negara berkembang.
“Kesulitan dalam akses internet tidak hanya membatasi kemampuan pekerja untuk belajar tentang AI, tetapi juga menghambat akses mereka terhadap pelatihan dan peluang kerja yang dihadirkan teknologi ini,” jelas ekonom PBB.
Selain akses internet, penting juga untuk meningkatkan literasi digital di negara-negara berkembang. Literasi digital tidak hanya seputar penggunaan internet, tetapi juga mencakup pemahaman dan kemampuan untuk menggunakan teknologi secara efektif.
Meminimalisir Dampak Negatif AI
PBB menekankan perlunya langkah-langkah konkret untuk meminimalisir dampak negatif AI bagi pekerja di Asia Pasifik.
Beberapa langkah tersebut Jogjajateng.com lain:
Investasi dalam infrastruktur digital:
Meningkatkan infrastruktur internet broadband di seluruh negara untuk memastikan akses internet yang merata bagi semua.
Pendidikan dan pelatihan digital:
Memberikan kesempatan pelatihan dan pengembangan keterampilan digital bagi pekerja di semua sektor, agar mereka dapat beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja yang berubah.
Kerjasama internasional:
Membangun kemitraan Jogjajateng.com negara-negara maju dan negara berkembang untuk mentransfer pengetahuan dan teknologi AI, serta memberikan dukungan finansial untuk pengembangan kapasitas di negara berkembang.
“Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat memastikan bahwa perkembangan AI berkontribusi untuk pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi semua negara di Asia Pasifik,” tutup ekonom PBB.