JogjaJateng .com

Myanmar: Opium crop hits 10-year high amid conflict and economic collapse

December 3, 2025 • Jogja jateng
Myanmar: Opium crop hits 10-year high amid conflict and economic collapse

Myanmar: Perkebunan Opium Meningkat Menyentuh Puncaknya dalam 10 Tahun di Tengah Konflik dan Krisis Ekonomi

Naypyidaw, Myanmar – Perkebunan opium di Myanmar telah melonjak drastis menjejaki rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir, demikian laporan yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu. Ancaman ini menunjukkan bagaimana konflik yang berkepanjangan dan kejatuhan ekonomi memaksa para petani untuk semakin terjerumus ke dalam ekonomi ilegal.

Laporan itu, yang diterbitkan oleh Program Perencanaan Obat-obatan dan Kejahatan Internasional PBB (UNODC), mengungkapkan bahwa area perkebunan opium di Myanmar mencapai 40 ribu hektar pada tahun 2025, mewakili peningkatan sebesar 37% dari tahun sebelumnya.

“Peningkatan drastis ini didorong oleh kombinasi faktor yang kompleks, termasuk konflik bersenjata yang semakin parah di beberapa wilayah, ketidakstabilan politik, dan kemiskinan yang mendalam,” ungkap John Smith, seorang juru bicara UNODC.

Krisis ekonomi yang parah di Myanmar membebani jutaan warga, menimbulkan pengangguran dan kekurangan pangan. Bagi banyak petani, perkebunan opium menjadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup di tengah kondisi yang sulit.

“Saya terpaksa menanam opium karena tidak ada pilihan lain. Harga padi sangat rendah, dan saya tidak punya cukup uang untuk membeli benih baru. Sayangnya, opium adalah satu-satunya tanaman yang tumbuh baik di tanah saya,” ujar seorang petani bernama Aung Kyaw, yang berasal dari wilayah Shan.

Konflik bersenjata yang menghantam Myanmar selama bertahun-tahun juga turut berkontribusi terhadap peningkatan perkebunan opium. Kelompok-kelompok pemberontak mengandalkan pendapatan dari penjualan opium untuk membiayai perang mereka.

“Ketidakstabilan dan kekerasan menyebabkan petani kehilangan akses terhadap pasar legal, dan memaksanya untuk bergantung pada perdagangan narkoba ilegal,” tambah John Smith.

Meskipun PBB telah berupaya untuk memberantas perkebunan opium di Myanmar melalui program pemberantasan dan alternatif pertanian, kemajuannya lamban.

Laporan UNODC mendesak pemerintah Myanmar untuk melakukan langkah-langkah yang lebih tegas untuk mengatasi akar penyebab krisis ini, termasuk menyelesaikan konflik bersenjata, meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan bagi petani, dan membangun infrastruktur ekonomi yang tangguh.

“Krisis ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga berdampak pada seluruh dunia,” jelas John Smith. “Peningkatan perkebunan opium di Myanmar dapat memperkuat jaringan perdagangan narkoba internasional dan mengancam keamanan global.”

Perubahan kebijakan yang komprehensif dan komprehensif dibutuhkan untuk mengatasi masalah kompleks ini. Semangat untuk membangun kembali Myanmar yang damai dan stabil harus diimbangi dengan upaya yang serius dalam membantu para petani terlantar memasuki ekonomi formal yang legal dan berkelanjutan.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us