JogjaJateng .com

One Carries a Broom, the Other a Schoolbag

January 19, 2026 • Jogja jateng
One Carries a Broom, the Other a Schoolbag

Satu Memakai Sapu, Satu Lagi Ransel: Kisah Dua Anak di Bangladesh

(Sylhet, Bangladesh) – Tania, delapan tahun, mungkin akan berpikir dua kali jika dia punya pilihan. Setiap pagi, alih-alih mengikuti teman-teman sebayanya menuju sekolah, dia menggendong sapu dan bekerja membersihkan rumah tangga swasta. Sementara itu, seorang anak lain di rumah tersebut, juga berusia delapan tahun, dengan bangga mengangkat ransel dan memulai perjalanan seusia untuk belajar.

Kisah Tania merefleksikan kontras tajam Jogjajateng.com dua fase kehidupan berdekatan di daerah Sylhet, Bangladesh. Bagi sebagian anak di sana, akses pendidikan masih merupakan impian yang tertunda, tergantikan dengan beban kerja yang menguras usia mereka.

Menurut data UNICEF, prevalensi pekerja anak di Bangladesh masih cukup tinggi, mencapai sekitar 13%. Christina, pekerja lapangan dari UNICEF Bangladesh, menuturkan bahwa banyaknya faktor yang mendorong anak-anak untuk bekerja, seperti kemiskinan kronis, kurangnya akses terhadap pendidikan, serta norma sosial yang cenderung menghargai pekerjaan laki-laki dan menganggap perempuan bertugas di rumah. “Kebutuhan ekonomi yang mendesak sering memaksa orang tua untuk mencari penghasilan dengan mengerahkan anak-anak,” jelas Christina.

Pak Saidur, orang tua Tania, terpaksa menjadikan anak perempuannya sebagai penopang ekonomi keluarga. “Saya ingin Tania bersekolah, tapi kami tidak punya pilihan,” ucapnya dengan nada sedih. “Hanya ada uang peralatan sekolah saja yang tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.”

Kekerasan dan eksploitasi adalah dua sisi terbuku dari pekerjaan anak.

Tania, meskipun hanya berumur delapan tahun, sudah memahami bahaya kerja di luar usia sekolahnya. Namun, bagi Tania, pilihannya terbatas. “Saya takut kalau berhenti. Ayah dan Ibu akan marah, dan kami akan kelaparan,” ujarnya.

Setiap hari, Tania bangun sebelum matahari terbit dan bekerja membersihkan rumah. Dibalik lelahnya, tersimpan mimpi kecil untuk bisa belajar. “Aku ingin menjadi guru,” ucapnya dengan tatapan kosong, seolah memendam harapan yang tak terwujud.

Melawan arus yang menghempaskan mimpi-mimpi anak, pemerintah Bangladesh telah membuka peluang pendidikan gratis dan upaya pemerintah dalam memberantas pekerja anak terus berlanjut. Namun, masih banyak anak seperti Tania yang terperangkap dalam siklus kemiskinan dan dipaksa bekerja.

Tantangan yang dihadapi masih sangat berat. Hanya dengan kolaborasi dan komitmen dari pemerintahan, masyarakat, dan pihak internasional, terwujudlah peduli dan perlindungan penuh untuk anak-anak di Bangladesh, dan semoga mereka semua bisa membawa ransel sekolah, bukan sapu.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us