JogjaJateng .com

Roots of Evil: Ethnic cleansing in Europe and the U.S.

January 13, 2026 • Jogja jateng
Roots of Evil: Ethnic cleansing in Europe and the U.S.

Akar Kejahatan: Pembersihan Etnik di Eropa dan AS

Stockholm, Swedia, Jakarta, 13 Januari – Setelah peristiwa serangan teroris 11 September 2001 di New York, Amerika Serikat membentuk Immigration and Customs Enforcement (ICE) dengan tujuan utama merespons ancaman teror. Namun, sejak kepulangan Donald Trump ke Gedung Putih, agen imigrasi federal ini telah menjadi ujung tombak untuk agenda imigrasi yang diterapkan oleh mantan presiden tersebut.

Para pengamat menyoroti perbedaan nyata dalam pendekatan ICE selama pemerintahan Trump dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. Dalam era Trump, ICE dianggap semakin aktif dalam menangkap dan menahan imigran yang tak legal, termasuk keluarga dengan anak-anak. Hal ini memicu kontroversi dan pertanyaan mengenai integritas dan moralitas operasi ICE.

“ICE, sejak kepemimpinan Presiden Trump, sering kali dianggapnya sebagai pasukan untuk mewujudkan agenda politiknya tanpa mempertimbangkan aspek humanitarian,” ujar pakar imigrasi yang tak ingin disebutkan namanya.

Sejak didirikan, ICE telah kerap dikritik atas tindakannya yang dianggap melanggar hak asasi manusia. Ada banyak laporan tentang kekerasan, penyiksaan, dan penahanan yang tidak manusiawi terhadap imigran, serta tren kebijakan yang menargetkan kelompok etnis tertentu.

Fenomena serupa serupa juga terjadi di Eropa, terutama di negara-negara seperti Hungaria, Polandia, dan Italia. Ketegangan batasan dan retorika anti-imigrasi yang marak bagaikan api yang dinyalakan, memicu pola diskriminasi dan kekerasan terhadap komunitas imigran.

Peristiwa-peristiwa ini mencerminkan sebuah tren global yang menimbulkan kekhawatiran. Pembersihan etnis dan diskriminasi terhadap imigran bukanlah isu yang baru, namun ekstremisme dan keprihatinan terhadap keamanan nasional yang ditonjolkan oleh beberapa pemerintahan, semakin memperburuk situasi ini.

Berbagai pihak, termasuk organisasi internasional dan aktivis hak asasi manusia, mendesak semua negara untuk mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan dan perlindungan hak secara universal dalam menangani isu imigrasi. Penting untuk diingat bahwa imigrasi adalah fenomena kompleks yang membutuhkan solusi yang komprehensif dan berbasis rasa persaudaraan, bukan politik kebencian dan kekerasan.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us