Sri Lanka cyclone: More than a million still need aid weeks after Ditwah floods
Sri Lanka: Lebih dari Sejuta Jiwa Terdampak Banjir dan Tanah Longsor Pasca Sitkome Ditwah
Kolombo—
Lebih dari tiga minggu setelah Situkome Ditwah menerjang Sri Lanka, jutaan warga di negara kepulauan tersebut masih bertahan dalam keadaan sulit. Banjir, tanah longsor, dan hujan deras yang meneruskan dampak Situkome, telah mengumu-dumuskan upaya pemulihan dan bantuan kemanusiaan. Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari satu juta orang, termasuk lebih dari 500.000 anak-anak, membutuhkan bantuan mendesak.
Hal ini merupakan salah satu bencana terburuk yang pernah dialami Sri Lanka dalam beberapa dekade terakhir. Situkome Ditwah menghantam Sri Lanka pada akhir November dengan kecepatan angin maksimum hingga 150 km/jam, menyebabkan kerusakan parah di berbagai wilayah. Lembaga Badan Penanggulangan Bencana Nasional Sri Lanka mencatat bahwa lebih dari 100 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat bencana ini.
Tantangan Berlanjut dalam Pemulihan
Proses pemulihan menjadi semakin sulit karena tanah longsor yang masih terjadi di beberapa daerah, menghambat akses bagi pasukan penyelamat dan tim bantuan. Hujan deras yang menerus juga telah menggenangi kembali rumah-rumah yang baru saja stabil dan membahayakan orang-orang yang telah kehilangan tempat tinggal.
“Situasi di lapangan sangat sulit. Banyak desa yang terisolasi dan akses jalan masih terganggu,” ungkap seorang petugas Palang Merah Sri Lanka. “Kami terus bekerja keras untuk menyalurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, tetapi cuaca dan kondisi jalan merupakan tantangan signifikan.”
Kebutuhan Kemanusiaan yang Mendesak
Kemanusiaan dituturkan dalam skala besar. Warga yang kehilangan rumah dan harta benda mereka membutuhkan tempat tinggal, makanan, air bersih, pakaian, dan pengobatan.
Keputusan untuk mengungsi telah menguras sumber daya dan materi yang sudah terbatas bagi banyak keluarga. Di masa depan, Sri Lanka membutuhkan bantuan internasional untuk pembangunan kembali infrastruktur yang rusak dan mendukung sistem kesehatan dan pendidikan yang terganggu. Organisasi-organisasi kemanusiaan internasional telah memulai upaya untuk menyalurkan bantuan, namun kebutuhan yang dirasakan masih sangat besar, dan koordinasi internasional membutuhkan perhatian mendesak.
Pandemi dan Kemiskinan: Satu Tambahan Beban
Pengalaman buruk Sri Lanka dengan pandemi COVID-19 dan krisis ekonomi yang sedang berlangsung, telah memperburuk dampak bencana ini. Banyak warga yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan akibat pandemi, meninggalkan mereka rentan terhadap dampak situkome dan kesulitan untuk menjangkau bantuan.
“Ini bukan hanya bencana alam, tapi juga sebuah krisis kemanusiaan,” ujar seorang pakar bencana. “Sri Lanka membutuhkan bantuan internasional yang serius untuk mengatasi dampak jangka panjang dari bencana ini.”
Pemulihan yang Adil dan Berkelanjutan
Pemerintah Sri Lanka sedang berupaya mempercepat proses pemulihan. Namun, kesuksesan upaya ini tergantung pada kerjasama dengan komunitas internasional untuk memberikan bantuan dan dukungan yang dibutuhkan. Sementara itu, warga Sri Lanka harus menghadapi hari-hari yang sulit dengan ketahanan dan semangat mereka yang tak kenal lelah.