Sudan civil war: Health system ‘on the verge of collapse’
Sudan Hancur: Sistem Kesehatan Hampir Kollaps
Khartoum, Sudan – Perang saudara di Sudan telah berlangsung selama hampir 1.000 hari, menghancurkan infrastruktur dan mendera rakyatnya. Salah satu sektor yang paling parah terdampak adalah sistem kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan ancaman besar terhadap kesehatan warga dengan wabah penyakit, kekurangan obat-obatan dan peralatan medis yang parah, serta meningkatnya angka kematian akibat malnutrisi dan kekerasan.
“Situasi di Sudan merupakan bencana kesehatan kemanusiaan skala besar,” ujar Dr. Mohamed Awad, perwakilan WHO untuk Sudan. “Sistem kesehatan negara tersebut hampir berada di ambang kehancuran.”
Perang yang meletus pada April 2019 Jogjajateng.com pasukan militer dan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menyebabkan ribuan kematian dan memaksa jutaan orang mengungsi. Akses mereka terhadap layanan kesehatan menjadi semakin sulit karena fasilitas medis rusak, staf medis terlantar, dan kurangnya persediaan.
WHO melaporkan sejumlah wabah penyakit mematikan, termasuk kolera dan disentri, yang menyebar dengan cepat di daerah-daerah yang telah dilanda konflik. “Kondisi sanitasi tidak memadai di kamp-kamp pengungsian yang padat penduduk, khususnya pada musim hujan, membuat penyebaran penyakit menjadi lebih cepat,” kata Dr. Awad.
Selain wabah penyakit, kekurangan gizi menjadi ancaman serius bagi anak-anak di Sudan. “Malnutrisi kronis di Sudan telah meningkat secara drastis. Banyak anak antusias hayati menjalani pembatasan akses makanan, air bersih, dan layanan gizi yang memadai,” ungkap seorang pekerja bantuan internasional yang tidak ingin disebut namanya.
Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan juga memiliki dampak yang signifikan pada ibu hamil dan persalinan. “Banyak ibu melahirkan di rumah tanpa bantuan medis,” ujar seorang bidan dalam sebuah kamp pengungsian. “Kemungkinan komplikasi melahirkan meningkat tajam karena kekurangan akses terhadap perawatan kesehatan yang tepat waktu.”
WHO dan berbagai lembaga bantuan kemanusiaan lainnya berupaya memberikan bantuan kesehatan kepada warga Sudan. Mereka telah menggiatkan operasi pengiriman obat-obatan, makanan, dan peralatan medis ke berbagai area yang terdampak. Namun, akses yang terbatas ke wilayah perang dan keamanan yang terus berubah-ubah menjadi tantangan besar dalam menyampaikan bantuan.
“Kami memerlukan akses yang aman dan konsisten ke seluruh wilayah Sudan untuk dapat membantu populasi warganya,” tegas Dr. Awad. “Masa depan kesehatan jutaan orang bergantung pada kemampuan kami dalam memberikan bantuan yang terkoordinasi dan berkelanjutan.”
Situasi di Sudan semakin memprihatinkan, dengan sistem kesehatan mendekati kehancuran. Tanpa intervensi yang cepat dan signifikan, ribuan nyawa lebih berisiko terancam akibat kekurangan akses terhadap layanan kesehatan, wabah penyakit, dan malnutrisi.