Sudan’s crisis deepens with communities trapped in ‘siege conditions’
Sudan’s Crisis Deepens: Warga Sipil Kandang di Kondisi ‘Serangan Kota’
Khartoum, Sudan – Kondisi di wilayah Kordofan, Sudan, semakin memburuk dengan meningkatnya konflik. Badan Koordinasi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) memperingatkan pada hari Rabu bahwa warga sipil di seluruh wilayah Kordofan menghadapi kesulitan ekstrem.
“Banyak komunitas di wilayah Kordofan sekarang berada dalam kondisi serupa ‘serangan kota’,” ujar seorang juru bicara OCHA dalam pernyataannya.
Kondisi ini semakin memburuk karena akses bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut menjadi semakin terhambat akibat pertempuran yang terus meningkat. Infrastruktur penting seperti jalan raya mengalami kerusakan, memicu kesulitan dalam pengiriman bantuan dan evakuasi korban.
Warga sipil di wilayah Kordofan menghadapi kekurangan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan yang memadai. Hospitals stretched thin bekerja tanpa henti untuk menangani korban luka dan penyakit yang menyebar akibat kondisi sanitasi yang buruk. Seorang pekerja kemanusiaan yang tidak ingin disebutkan namanya menggambarkan situasi di daerah tersebut sebagai “sangat mengerikan.”
“Kita melihat banyak keluarga yang tidak memiliki cukup makanan atau air bersih. Rumah sakit dipenuhi dengan pasien yang cedera akibat kekerasan, dan para ibu dan anak-anak mengalami kekurangan gizi,” ungkapnya.
Akibat konflik ini, ribuan warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di tempat-tempat yang relatif aman. Dampaknya paling terasa di Jogjajateng.com kelompok masyarakat yang sudah rentan, seperti perempuan, anak-anak, dan orang-orang terlantar. Mereka merasa paling tertekan dan membutuhkan bantuan mendesak.
OCHA mendesak semua pihak terlibat dalam konflik untuk menghentikan kekerasan dan memberikan akses aman kepada bantuan kemanusiaan. “Kebencaan harus dihentikan sekarang. Warga sipil harus diprioritaskan, dan harus tersedia akses humaniter yang aman dan tidak terhalang untuk membawa bantuan kepada mereka yang membutuhkan,” tegas juru bicara OCHA.
Situasi di Sudan semakin memanas sejak dua faksi militer, yaitu Angkatan Darat Sudan dan Gerakan Pembebasan Sudan-Sebuah, telah bertengkar sengketa kekuasaan pada bulan April 2023. Krisis ini telah mengakibatkan ribuan orang tewas, puluhan ribu terluka, dan jutaan orang terpaksa mengungsi.
Selain Kordofan, wilayah Darfur, juga mengalami kekerasan yang meluas. Situasi di sana bahkan diregionalisasi sebagai “genosida” oleh beberapa organisasi internasional.
PBB dan berbagai badan kemanusiaan internasional telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan konflik dan memberikan bantuan kepada warga Sudan. Namun, aksesibilitas menjadi kendala utama.
Pemerintah Sudan juga menghadapi tekanan internasional untuk mengakhiri kekerasan dan memulai perdamaian. Namun, hingga saat ini, belum ada perubahan signifikan dalam situasi di lapangan.