UN urges calm in Bangladesh after killing of protest leader sparks unrest
PBB Panggil Tenang di Bangladesh Setelah Pembunuhan Pemimpin Protes Memicu Unrest
Dhaka, Bangladesh – PBB mendesak untuk tenang di Bangladesh setelah pembunuhan seorang pemimpin protes pemuda yang mencetuskan gelombang protes baru, memicu kekhawatiran akan meningkatnya kekerasan politik menjelang pemilu tahun depan.
Kematian Rifat Sharif, seorang aktivis yang aktif menuntut reformasi pemerintah di Bangladesh, di luar sebuah toko roti di Dhaka pada Selasa pagi (19 Desember 2023) telah memicu kemarahan dan demonstrasi spontan di berbagai kota di Bangladesh. Sejumlah insiden kerusuhan dilaporkan terjadi di Dhaka dan kota-kota lainnya, dengan para demonstran membakar ban dan berselisih dengan polisi. Korban luka-luka dilaporkan dalam bentrokan tersebut.
Sharif, yang dikenal sebagai figur vokal terhadap pemerintahan Perdana Menteri Sheikh Hasina, dibunuh dengan cara yang diduga brutal di depan umum. Pengumuman polisi menyatakan bahwa mereka telah menahan beberapa pelaku dan penyelidikan sedang berlangsung. Namun, keluarga dan pendukung Sharif mengklaim bahwa penyelidikan tersebut akan menjadi ‘terlalu lambat’ dan menuduh pemerintahan Hasina terlibat dalam pembunuhan tersebut.
“Kami sangat prihatin dengan kematiannya dan dengan situasi darurat yang melanda,” ujar Michelle Bachelet, Kepala Kantor Hak Asasi Manusia PBB. “Hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi harus dihormati dan dilindungi untuk semua orang, terutama dalam konteks pendekatan pemilihan umum.”
Bachelet menekankan pentingnya independensi dan keadilan dalam penyelidikan atas pembunuhan Sharif. Ia juga menyerukan kepada pihak berwenang untuk menahan diri dari segala tindakan kekerasan dan menjamin keselamatan semua warga negara Bangladesh.
Pembunuhan Sharif memicu unek-unek publik tentang keamanan dan perbebasan sipil di Bangladesh menjelang pemilu yang akan diselenggarakan pada awal tahun depan. Kritikus pemerintahan Hasina telah lama menuduh pemerintah melakukan pembungkaman pihak oposisi dan sistematis penindasan terhadap aktivis dan jurnalis.
Pemimpin oposisi mendesak pemerintah untuk menyelidiki pembunuhan ini secara transparan dan berkeadilan. Mereka juga menuntut jaminan akan keselamatan para aktivis dan warga sipil menjelang pemilu.
Kesimpulan
Pembunuhan Rifat Sharif bukan hanya kehilangan seorang pemimpin protes, tapi juga sebuah ancaman nyata terhadap demokrasi dan kebebasan warga sipil di Bangladesh. Situasi ini menambah tekanan bagi pemerintah untuk menjamin keamanan dan pemilu yang adil dan terbuka di tahun depan. Internasional dengan tegas mengawasi situasi ini dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia serta demokrasi dalam konteks yang penuh ketegangan ini.