Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Indef Sebut Penerbitan SRBI Perlu Dikendalikan
Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Indef Sebut Penerbitan SRBI Perlu Dikendalikan
Jakarta – Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko Listiyanto, menekankan perlunya pengendalian dalam penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Menurutnya, kebijakan ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Penerbitan SRBI, meski memiliki potensinya untuk menunjang pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan UMKM dan infrastruktur, perlu dikawal dengan hati-hati,” ujar Eko Listiyanto dalam keterangan tertulisnya. “Pengendalian ini bertujuan agar SRBI tidak mengalihkan kembali dana dari sektor produktif ke sektor spekulasi, yang berpotensi menimbulkan risiko ke ekonomi.”
Eko menjelaskan SRBI merupakan instrumen keuangan yang digadang-gadang dapat mendorong efisiensi pasar uang dan menyalurkan likuiditas ke sektor riil. Namun, perlu diingat bahwa SRBI merupakan instrumen sekuritas yang memiliki karakteristik sifat spekulative. Potensi ini, jika tidak diatasi dengan baik, dapat menyebabkan fluktuasi dan ketidakpastian dalam perkembangan ekonomi.
Salah satu risiko utama dari penerbitan SRBI yang tidak terkendali adalah potensi terjadinya rollover risk . Ketika SRBI mulai diperdagangkan di pasar sekunder, terdapat risiko bahwa investor menarik dana investasi dari SRBI akibat faktor eksternal, misalnya perubahan kurs atau kondisi ekonomi yang tidak menentu. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan bagi pemerintah dalam menerbitkan SRBI baru di masa mendatang.
“Ketika investor tak lagi percaya dengan kecukupan likuiditas, mereka akan melirik instrumen investasi lain sehingga potensi voltailitas di pasar keuangan meningkat,” tambah Eko Listiyanto.
Selain rollover risk , penerbitan SRBI yang berlebihan juga dapat memicu inflasi. Dananya, jika disalurkan ke sektor yang tidak produktif seperti spekulasi aset, dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara signifikan.
“Inflasi tinggi bukan hanya merugikan masyarakat, tapi juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” tegas Eko. Ia menekankan pentingnya perencanaan dan langkah-langkah mitigasi yang matang dari pemerintah dalam menerbitkan SRBI.
Eko Listiyanto juga menyarankan agar pemerintah berkomunikasi secara transparan dengan masyarakat tentang kebijakan dan potensi risiko SRBI. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan publik dan menjaga stabilitas perekonomian.
“Kejelasan informasi dan strategi yang terukur dari pihak pemerintah akan membantu mendekatkan masyarakat ke SRBI,” ujar Eko. “Ini akan mendorong partisipasi masyarakat dan menciptakan pasar yang lebih sehat dan efisien.”
Dalam kesimpulannya, meskipun memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, penerbitan SRBI perlu dikawal dengan hati-hati. Pengendalian yang cermat diperlukan untuk menghindari risiko negatif bagi stabilitas ekonomi, seperti rollover risk dan inflasi.