Akademisi Unsoed: Kuatkan destana di sekitar Gunung Slamet untuk hadapi ancaman bencana
Akademisi Unsoed: Kuatkan Destana di Sekitar Gunung Slamet untuk Hadapi Ancaman Bencana
Purwokerto, (Jatengpost.com) – Berada di lereng Gunung Slamet, wilayah sekitarnya rentan terhadap berbagai bencana. Selain potensi letusan gunung berapi, ancaman banjir dan longsor juga selalu mengintai. Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Maulana Rizki Aditama, menekankan perlunya penguatan desa tangguh bencana (destana) di daerah tersebut.
“Rasa khawatir terhadap potensi erupsi Gunung Slamet memang besar, tapi kita juga perlu waspada terhadap ancaman lain seperti banjir dan longsor. Bentang alam yang curam dan sistem drainase yang belum optimal bisa memicu bencana banjir dan longsor di wilayah lereng gunung,” jelas Maulana Rizki, yang juga dosen di Program Pascasarjana Unsoed, kepada wartawan.
Ia menilai destana memiliki peran krusial dalam menghadapi beragam ancaman bencana tersebut. “Destana dapat menjadi garda terdepan dalam mitigasi bencana karena warga juga perlu disosialisasikan untuk selalu siap,” ujarnya.
Lebih lanjut, Maulana menjelaskan bahwa penguatan destana perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan. Pertama, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya bencana dan langkah-langkah pencegahan.
“Desabitkan pentingnya pengetahuan tentang tanda-tanda bahaya, potensi, dan cara menghadapi bencana. Masyarakat harus bisa memahami rute evakuasi, tempat pengungsian, dan prosedur penanganan situasi darurat,” saran Maulana.
Kedua, perbaikan infrastruktur dan penataan ruang. Perluasan drainase, upaya penghijauan, dan penguatan sistem pengairan menjadi beberapa contoh infrastruktur yang dapat mengurangi risiko bencana.
Ketiga, pembentukan sistem peringatan dini yang efektif. Maulana mendorong pemanfaatan teknologi dan jaringan komunikasi yang baik untuk disseminate informasi terkait bencana kepada masyarakat dengan cepat dan akurat.
“Kita perlu melibatkan peran relawan dalam memantau kondisi gunung, mencatat perubahan, dan menyebarkan informasi kepada masyarakat lewat posko-posko yang etablish,” tambahnya.
Selain itu, menurut Maulana, peran pemerintah dalam memberikan dukungan kepada destana juga sangat penting. Dukungan berupa pelatihan, dana, dan aksesibilitas informasi dapat memperkuat kemampuan destana dalam menghadapi bencana.
“Penguatan destana bukan hanya tanggung jawab warga desa, tapi juga pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kerjasama yang solid sangat penting untuk memastikan kesiapsiagaan dan keberhasilan program mitigasi bencana,” tegasnya.
Kesimpulan
Akademisi Unsoed, Maulana Rizki Aditama, menekankan pentingnya penguatan desa tangguh bencana (destana) di sekitar Gunung Slamet untuk menghadapi berbagai ancaman bencana, bukan hanya letusan gunung berapi, tetapi juga banjir dan longsor. Penguatan destana membutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Kerjasama dan pendidikan masyarakat sangat penting untuk membangun sistem mitigasi bencana yang efektif dan mampu melindungi kehidupan warga di lereng Gunung Slamet.