Guru Besar UMS sebut hukum positif tak cukup atasi krisis moral
Guru Besar UMS Sebut Hukum Positif Tak Cukup Atasi Krisis Moral
Surakarta – Profesor Dr. Andri Nirwana, Ph.D., guru besar Ilmu Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menegaskan bahwa penyelesaian persoalan kebangsaan modern tidak bisa hanya diandalkan pada pendekatan hukum positif dan ideologi formal. Menurutnya, akar persoalan bangsa saat ini justru terletak pada krisis etika publik dan moralitas sosial. Hal tersebut disampaikan Andri dalam Jumpa Pers Pengukuhan Guru Besar UMS bertajuk “Ilmu Tafsir dan Tanggung Jawab Etika Kebangsaan: Membaca Asta Cita dalam Horizon Kebangsaan”.
“Hukum positif dan ideologi formal merupakan fondasi penting dalam membangun negara yang berkeadilan, tetapi tidak cukup untuk menyelesaikan problematika bangsa,” ujar Prof. Andri.
Dalam sambutannya, Prof. Andri menekankan pentingnya kesadaran etika dan moralitas yang kokoh dalam membentuk karakter individu dan masyarakat. Ia berpendapat bahwa krisis moral mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari perilaku individu hingga sistem pemerintahan.
“Krisis moral ditandai dengan menurunnya nilai-nilai kejujuran, integritas, keadilan, dan saling menghormati. Fenomena korupsi, nepotisme, dan pelanggaran hak asasi manusia merupakan bentuk nyata dari krisis moral yang menghancurkan sendi-sendi kebangsaan,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana Asta Cita, yaitu pemahaman dan penerapan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam ajaran Islam, dapat menjadi alternatif dalam membangun moralitas sosial yang tinggi.
“Asta Cita yang meliputi iman, ikhlas, kejujuran, adil, husnudzon, dan sabr dapat menjadi pedoman hidup yang baik bagi seluruh masyarakat tanpa memandang agama dan suku. Penerapan Asta Cita dalam kehidupan sehari-hari dapat membangun karakter bangsa yang kuat dan tegak,” tegasnya.
Juga di kesempatan ini, Prof. Andri menyoroti pentingnya peran kampus dalam membentuk individu yang memiliki karakter moral yang kuat.
“Universitas memiliki peran strategis dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berintegritas dan bermoral. Kampus harus menjadi tempat yang mengajarkan nilai-nilai luhur dan membentuk karakter mahasiswa seluasnya,” imbuhnya.
Dalam pandangannya, penyelesaian krisis moral tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau institusi pendidikan saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab setiap individu. “Setiap orang harus menyadari posisinya dan tanggung jawabnya dalam menjaga moralitas bangsa. Kita harus memulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” pungkas Prof. Andri.
Prof. Andri Nirwana, dengan latar belakang penelitiannya dalam bidang Tafsir dan Kajian Sosial Keislaman, berpendapat bahwa Ilmu Tafsir harus menjadi basis pengembangan pemikiran yang mampu memberikan solusi bagi permasalahan bangsa. Ia berharap, ilmu ini dapat membantu masyarakat untuk memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Jumpa Pers Pengukuhan ini dihadiri para pejabat UMS, dosen, ahli tafsir, serta tamu undangan lainnya. Acara tersebut menjadi momentum penting bagi Prof. Andri Nirwana dalam berbagi pemikiran serta memberikan inspirasi terhadap kampus dan masyarakat dalam membangun bangsa yang lebih baik.