JogjaJateng .com

Masyarakat Kaloran Temanggung lakukan Nyadran Perdamaian

January 16, 2026 • Jogja jateng
Masyarakat Kaloran Temanggung lakukan Nyadran Perdamaian
Masyarakat Kaloran Temanggung Lakukan Nyadran Perdamaian

Temanggung, – Berbagai keyakinan dan tradisi tak menghalangi semangat persaudaraan di Kaloran, Temanggung. Jelang perayaan Hari Raya Waisak, masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk Desa Getas, Kaloran, Temanggung, menggelar kegiatan Nyadran Perdamaian di Pemakaman Gletuk, Jumat (14/4/2023). Kegiatan ini menjadi wujud nyata ukhuwah Islamiyah dan Hindu bagi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan secara harmonis.

Bupati Temanggung, Agus Setyawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa banyak desa di Kabupaten Temanggung, khususnya di Dusun Krecek dan Gletuk Desa Getas, menggelar acara nyadran sebagai ajang untuk silaturahmi antar umat manusia. “Nyadran bukan hanya sekedar tradisi, tapi juga esensi keharmonisan dan kebersamaan,” ujarnya.

Menurut Agus, tradisi nyadran tersebut menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama, melestarikan budaya lokal, dan menunjukkan bahwa keberagaman di Temanggung merupakan kekuatan.

Di Pemakaman Gletuk, tampak antusiasme warga saat mengikuti rangkaian kegiatan Nyadran. Di tengah hamparan tanah pemakaman, warga memadati area dengan membawa sesajen yang terdiri dari berbagai macam makanan dan minuman tradisional khas Jawa Tengah.

Masyarakat juga mempersiapkan berbagai jajanan seperti kue, putu bambu, dan lontong. Sesajen tersebut telah disiapkan dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, menggambarkan ketulusan warga dalam menjalankan tradisi ini.

Selain itu, terdapat penampilan seni tradisional yang melengkapi suasana keramaian. Tari Kecak, dengan irama dan koreografi yang khas, menjadi salah satu hiburan yang disukai warga. Tarian ini menggambarkan kisah perjuangan Rwana dan Rama dalam mitologi Hindu, hingga menyentuh budaya Jawa yang kental dalam tradisi Nyadran.

Prosesi Nyadran diawali dengan pembacaan doa dan shalawatan yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa-doa tersebut dipanjatkan untuk keselamatan dan kebahagiaan seluruh warga, serta sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Setelah pembacaan doa, sesajen kemudian diarak menuju area pemakaman secara simbolis, diiringi lantunan gamelan dan alunan musik tradisional.

Seorang warga Dusun Krecek, Dwi Susanti, mengatakan bahwa tradisi Nyadran ini merupakan tradisi turun temurun yang selalu dilakukan di masyarakatnya. “Melalui acara ini, kita bisa melepas keperdulian dan rindu kepada warga yang telah tiada,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan Nyadran juga menjadi ajang untuk bersilaturahmi dengan berbagai kalangan. Perbedaan keyakinan tak menjadi halangan untuk berkumpul dan merayakan bersama. “Nyadran ini juga momentum untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman kita,” tambah Dwi.

Keagungan tradisi Nyadran Perdamaian di Dusun Krecek dan Gletuk menjadi bukti nyata bahwa perbedaan agama dan kepercayaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara harmonis. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga menjadi inspirasi untuk menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan toleransi di Indonesia, khususnya di Kaloran Temanggung.

Sumber: jogjajateng.com

Advertising Space

Slot 01 Available

Book Now

Promotion Slot

Slot 02 Available

Contact Admin

Sponsorship

Slot 03 Available

Partner With Us