Program ketahanan pangan isi sebagian kebutuhan dapur Lembaga Pemasyarakatan Semarang
Program Ketahanan Pangan Isi Sebagian Kebutuhan Dapur Lembaga Pemasyarakatan Semarang
Semarang, Jawa Tengah – Program ketahanan pangan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Semarang, Jawa Tengah memberikan kontribusi positif dalam memenuhi sebagian kebutuhan bahan baku dapur lembaga pemasyarakatan tersebut. Hal ini diungkapkan Kepala Lapas Semarang, Ahmad Tohari, di Semarang, Minggu (12/11/2023).
“Hasil panen langsung dilarikan ke dapur lapas, itu pun belum mampu memenuhi keseluruhan kebutuhan,” ujar Tohari. Ia menjelaskan bahwa terdapat ketentuan yang mewajibkan bagian dapur di Lapas Semarang untuk menerima hasil panen dari program ketahanan pangan yang dijalankan di dalam kompleks penjarahan tersebut.
Program ketahanan pangan di Lapas Semarang ini meliputi pengembangan lahan pertanian di dalam kompleks Lapas dengan menanam berbagai jenis sayur-sayuran seperti kangkung, selada, cabai, tomat, kembang kol, bayam dan berbagai jenis buah. Akhir pekan lalu, panen sayur-sayuran segar di Lapas Semarang berlangsung meriah dengan melibatkan seluruh warga binaan dan petugas Lapas.
selain sayur-sayuran, program ini juga menanam berbagai jenis tanaman pangan lainnya seperti kacang hijau, jagung, dan padi di lahan yang tersedia. Penerapan sistem bertanam hidroponik dan aquaponik juga turut dilakukan sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Sistem bertanam hidroponik dan aquaponik di Lapas Semarang memanfaatkan teknologi modern untuk menghasilkan buah dan sayur-sayur dengan efisiensi tinggi. Dengan metode ini, tanaman tidak membutuhkan media tanah dan minim penggunaan air, sehingga lebih hemat dan efektif. Lahap dan segar, umbi-umbian seperti kol dan wortel juga menjadi bagian dari program ketahanan pangan ini. Program ini diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan dapur Lapas Semarang, sekaligus meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup para warga binaan.
“Sistem bertanam hidroponik dan aquaponik ini ramah lingkungan dan sesuai dengan visi Lapas Semarang yang berusaha membangun Lapas yang lebih mandiri,” ujar Tohari.
Lebih lanjut, program ketahanan pangan ini juga bertujuan untuk memberdayakan warga binaan dan memberikan mereka keterampilan dalam bidang pertanian.
“Mereka dilibatkan dalam seluruh tahapan, mulai dari penanaman hingga panen. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka dengan bekal keterampilan yang dapat bermanfaat setelah mereka kembali ke masyarakat,” tegas Tohari.
Wartawan yang menyaksikan proses panen langsung melihat antusiasme para warga binaan. Bagi mereka, program ini bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi menjadi peluang untuk belajar dan mengasah keterampilan, serta mendapatkan hasil panen yang segar dan sehat untuk dikonsumsi.
Geliat suasana di Lapas Semarang diharapkan mampu menginspirasi lembaga pemasyarakatan lainnya untuk menerapkan program ketahanan pangan yang serupa. Dengan begitu, Lapas dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan internal, sekaligus mendidik dan memberdayakan warga binaan.