Realisasi investasi Jateng 2025 capai Rp88,50 triliun
Realisasi Investasi Jawa Tengah Tahun 2025 Capai Rp88,50 Triliun
Semarang, 02 Januari 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat capaian realisasi investasi yang signifikan pada tahun 2025. Seluruh investasi yang masuk ke Jawa Tengah sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai Rp88,50 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari realisasi pada tahun 2024 sebesar Rp68,67 triliun.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengungkapkan optimisme ini dalam keterangan kepada awak media di Semarang, Selasa, (02/01/2026). “Kami bersyukur dan bangga dapat mencatat pertumbuhan realisasi investasi sebesar Rp19,83 triliun, atau 28,88 persen, dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Gubernur Luthfi.
Rilis resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa realisasi investasi pada 2025 terbagi menjadi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun.
Menurut Gubernur Luthfi, berbagai sektor menjadi daya tarik bagi investor di Jawa Tengah. Sektor manufaktur, sektor pariwisata, dan sektor digital menjadi penyumbang terbesar terhadap peningkatan realisasi investasi ini. “Sinergi dengan pemerintah pusat, dukungan infrastruktur yang terus berkembang, dan potensi sumber daya manusia yang unggul menjadi faktor kunci dalam menarik minat pengusaha baik lokal maupun asing,” pungkasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melihat optimisme ini sebagai momentum untuk terus memajukan perekonomian Provinsi Jawa Tengah.
“Kami akan terus berupaya untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan mendorong terciptanya lapangan kerja baru bagi masyarakat Jawa Tengah,” tegas Gubernur Luthfi.
Diskusi dan kolaborasi dengan pelaku usaha terus dilakukan untuk memastikan rencana investasi dapat terealisasi dengan baik dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Jawa Tengah.
Kedepannya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga akan menaruh fokus pada pengembangan industri kreatif, sektor energi terbarukan, dan sektor pertanian teknologi. Pengembangan sektor-sektor ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.