Tradisi Sadranan Dusun Pete Kandangan menyembelih 94 kambing
Tradisi Sadranan Dusun Pete Kandangan: 94 Kambing Disembelih untuk Kepedulian dan Menghormati Leluhur
Temanggung – Tradisi unik kembali menghangatkan suasana di Dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Seru dan meriah, klimaks tradisi Sadranan Dusun Pete ditandai dengan penyembelihan 94 ekor kambing/domba pada Jumat (7 Oktober 2023) pagi.
Acara yang digelar di lapangan desa ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Dusun Pete untuk memperingati peristiwa penting dalam sejarah dan sekaligus sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur, khususnya Kiai Keramat dan Kiai Yudho Kusumo.
Wakil Bupati Temanggung, Nadia Muna, yang hadir dalam momen ini, menyampaikan pesan bahwa tradisi Sadranan menjadi simbol penting dalam membangun kebersamaan dan keharmonisan. “Tradisi ini menjadi wadah untuk mempererat tali kebersamaan dan mengukuhkan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur,” ucapnya dalam sambutannya.
Menurut Nadia, tradisi ini juga mencerminkan kerentanan dan kepedulian masyarakat Dusun Pete terhadap sesama. “Nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong yang tercermin dalam tradisi ini perlu terus dijaga dan dikembangkan,” imbuhnya.
Kisah di Balik Tradisi yang Meriah
Berdasarkan sejarah dan cerita dari para sesepuh setempat, Kiai Keramat dan Kiai Yudho Kusumo adalah tokoh masyarakat yang penyebar nilai-nilai luhur. Kehadiran mereka bagaikan terang di tengah masyarakat yang penuh tantangan. Keteladanan dan perjuangan kedua tokoh tersebut menjadi inspirasi bagi masyarakat Dusun Pete hingga saat ini.
Tradisi Sadranan, yang berarti “membangun kekuatan”, ini menjadi bentuk nyata penghormatan dan rasa syukur atas perjuangan, nasihat, dan kebaikan yang telah diberikan oleh kedua tokoh agama tersebut. Pemeliharaan tradisi ini juga menjadi upaya menjaga semangat persatuan, kesatuan, dan kebersamaan di Dusun Pete.
Salah satu warga Dusun Pete, Sunardi, menceritakan bahwa penyembelihan 94 ekor kambing dikaitkan dengan jumlah anggota keluarga besar Kiai Keramat di masa lalu. “Tradisi ini sudah berumur puluhan tahun dan terus dijalankan secara turun temurun. Setiap tahunnya, kita menyelenggarakan ritual ini sebagai bentuk wujud syukur dan penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa bagi masyarakat,” ungkapnya.
Momentum Kebersamaan dan Kemanusiaan
Acara Sadranan Dusun Pete tidak hanya mengundang warga setempat, tetapi juga saudara-saudara dari desa tetangga. Peduli dan berbagi merupakan tema utama yang beresonansi dalam pelaksanaan tradisi ini. Semua kegiatan, mulai dari penyembelihan, pembagian protein hewani, dan doa bersama, dilakukan secara gotong royong.
“Tidak hanya warga Dusun Pete yang diundang, tetapi juga masyarakat sekitar. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun silaturahmi, kebersamaan, dan menumbuhkan rasa empati antar sesama,” ujar Ketua Panitia Sadranan Dusun Pete, Heri Suranto.
Tradisi Sadranan Dusun Pete menjadi cerminan nyata tentang bagaimana nilai-nilai luhur dan sejarah dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang membangun dan penuh makna. Tradisi ini tentu menjadi aset berharga bagi Kabupaten Temanggung dan diharapkan dapat terus lestari bagi generasi mendatang.