UMS Insight bahas hujan ekstrem dan banjir bandang
UMS Insight Bahas Hujan Ekstrem dan Banjir Bandang
Solo, 14 Februari 2023 – Anomali iklim yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi perhatian serius berbagai pihak. Fenomena hujan ekstrem, banjir bandang, dan potensi bencana hidrometeorologis lainnya dinilai bukan sekadar peristiwa musiman, tetapi berkaitan erat dengan kondisi geografis, perubahan iklim global, serta perilaku manusia dalam mengelola lingkungan.
Dalam acara UMS Insight yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Solo, Jawa Tengah, Selasa ini, Guru Besar Geografi UMS Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., memaparkan analisis mendalam mengenai tren tersebut. Bertajuk “Hujan Ekstrem dan Banjir Bandang: Sebuah Analisis Geografis”, diskusi yang moderated oleh dr. Rofiqiyanto, S.Si., M.Kes., ini menghadirkan pandangan dari Prof. Kuswaji tentang bagaimana memahami dan mitigasi dampak bencana ini.
“Fenomena hujan ekstrem dan banjir bandang yang kita alami sekarang ini perlu dikaji lebih serius dan komprehensif,” ujar Prof. Kuswaji. “Tidak bisa lagi dianggap hanya sebagai peristiwa normal yang terjadi secara musiman. Ada faktor-faktor lain yang berkontribusi, seperti pemanasan global dan kerusakan ekosistem.”
Prof. Kuswaji menekankan bahwa perubahan iklim global menyebabkan pola cuaca menjadi semakin tidak menentu. Meningkatnya suhu bumi mengakibatkan intensitas curah hujan menjadi lebih tinggi dalam waktu yang singkat. Hal ini, tentu saja, memicu terjadinya banjir bandang dengan cepat dan besar.
Lebih lanjut, Prof. Kuswaji menjelaskan bahwa kondisi geografis Indonesia juga berperan penting dalam meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Letak geografisnya yang berada di Jogjajateng.com dua samudra serta jutaan pulau dengan topografi beragam membuat daerah Indonesia rentan terhadap pengaruh cuaca ekstreem.
“Kita juga tidak bisa mengabaikan aspek perilaku manusia yang turut berkontribusi pada meningkatnya risiko bencana,” tambahnya. “Deforestasi, urbanisasi tidak terkontrol, dan pengelolaan lingkungan yang buruk memperburuk efek dari hujan ekstrem dan menyebabkan banjir lebih sulit terkontrol.”
Dalam diskusi tersebut, Prof. Kuswaji juga menyampaikan beberapa solusi untuk mitigasi bencana hidrometeorologi.
“Pertama, kita perlu berfokus pada pencegahan melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Menanam pohon, merestorasi hutan, dan membangun infrastruktur yang dapat menahan dan menyerap air menjadi hal yang krusial. Kedua, meningkatkan sistem peringatan dini bencana. Informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat tentang prediksi cuaca ekstrem sangat penting untuk mempersiapkan diri dan mengurangi dampaknya. Ketiga, membangun sistem drainase yang baik dan memperkuat daya tampung daerah aliran sungai,” tegasnya.
Prof. Kuswaji juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyusun kebijakan dan program yang terintegrasi mengatasi masalah ini. Kolaborasi Jogjajateng.com pemerintah, akademisi, dan masyarakat diperlukan untuk membangun ketahanan menghadapi bencana hidrometeorologi di masa depan.
Kesimpulan
Hujan ekstrem dan banjir bandang menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh faktor musiman, tetapi dipengaruhi oleh perubahan iklim global, kondisi geografis, dan perilaku manusia. Melalui edukasi masyarakat, penelitian untuk memahami tren cuaca, dan upaya mitigasi bencana yang terintegrasi, Indonesia dapat lebih siap menghadapi risiko hidrometeorologi di masa depan.