Ini penyebab utama longsor di lereng Gunung Slamet
Ini Penyebab Utama Longsor di Lereng Gunung Slamet
PEMALANG, TEGAL, PURBALINGGA – Bencana banjir dan tanah longsor menghantui sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga. Hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari berturut-turut menjadi pemicu utama peristiwa ini. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan bahwa selain hujan deras, beberapa faktor emisifa juga menjadi penyebab utama longsor di lereng gunung purba tersebut.
Berdasarkan data yang dikumpulkan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, intensitas hujan yang tinggi pada 13 hingga 15 Oktober 2023 memicu meluapnya sungai dan genangan air yang selanjutnya menyebabkan terjadinya longsor di beberapa wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah, Drs. Djoko Nugroho menjelaskan bahwa rambatan hujan berkepanjangan telah menguras daya tampung tanah di lereng Gunung Slamet. “Tanah yang sudah terjal dan curam, ditambah intensitas hujan tinggi, membuat struktur tanah jadi tidak stabil. Akibatnya, terjadi longsor,” ujar Djoko Nugroho pada saat konferensi pers, 16 Oktober 2023.
Pihaknya juga menambahkan bahwa beberapa faktor emisifa menjadi pemicu terjadinya longsor di wilayah tersebut. Penggunaan lahan hutan di lereng Gunung Slamet yang tidak tepat, seperti untuk perkebunan dan pemukiman, telah menyebabkan hilangnya vegetasi dan peran vegetasi dalam menahan erosi tanah. “Tanah yang tidak ditumbuhi vegetasi lebih mudah longsor saat hujan deras,” sebut Djoko Nugroho.
Selain itu, aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pembukaan lahan yang tidak terkendali, penambangan liar, dan limbah industri di daerah hulu sungai akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem di lereng Gunung Slamet.
Berdasarkan data dari BPBD Provinsi Jawa Tengah , setidaknya terdapat lima desa di Kabupaten Pemalang, tiga desa di Kabupaten Tegal, dan dua desa di Kabupaten Purbalingga yang terdampak bencana longsor. Akses menuju beberapa desa terputus total akibat longsor yang terjadi. Sepanjang periode bencana, setidaknya terdapat tiga warga yang dilaporkan hilang.
Tiga warga lainnya mengalami luka-luka. Pihak BPBD telah mengerahkan tim untuk melihat kondisi terkini dan melakukan upaya evakuasi warga terdampak.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyarankan kepada masyarakat yang tinggal di daerah lereng Gunung Slamet untuk tetap waspada dan hati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Provinsi Jawa Tengah, Prof. Dr. Harianto , menyampaikan pesan kepada masyarakat. “Kita perlu menyadari bahwa bencana alam seperti ini dapat terjadi kapan saja. Mari jaga lingkungan dengan baik dan patuhi regulasi yang ada demi keselamatan bersama”.
Dia juga menghimbau kepada masyarakat untuk selalu berjaga-jaga dan mengutamakan keselamatan diri jika terjadi hujan deras dan cuaca ekstrem. Masyarakat diimbau untuk segera mengungsi jika terjadi tanda-tanda longsor, seperti tanah yang menguferat atau suara gemuruh dari lereng gunung.