Legislator DPRD DIY Fajar Gegana minta BGN tambah kuota SPPG untuk KMP di Kulon Progo
Legislator DPRD DIY Fajar Gegana Minta BGN Tambah Kuota SPPG untuk KMP di Kulon Progo
Sleman, Yogyakarta – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPRD DIY) Fajar Gegana mengapresiasi kerja pemerintah dalam berupaya menekan angka stunting di DIY. Harapannya, upaya pemerintah ini dapat dimaksimalkan dengan menambah kuota Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola oleh Koperasi Merah Putih (KMP) di Kabupaten Kulon Progo.
Fajar mengungkapkan apresiasinya melalui dialog dengan Badan Gizi Nasional (BGN) yang digelar di Ruang Rapat II, DPRD DIY, Selasa (24/10/2023). Ia menekankan bahwa stunting merupakan masalah serius yang harus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.
“Angka stunting di DIY memang turun, tetapi masih perlu ditingkatkan lagi,” jelas Fajar Gegana. “Oleh karena itu, kami mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk menekan angka stunting ini, termasuk penunjukan KMP untuk mengelola SPPG.”
Menurut Fajar, KMP memiliki keunggulan dalam hal kepedulian terhadap masyarakat serta jaringan yang luas di tingkat desa. “KMP bisa menjadi mitra yang andal dalam menjalankan program SPPG karena mereka memiliki akar rumput yang kuat dan mengerti betul kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Cuitannya, BGN sendiri telah menunjukkan komitmen kuat dalam mengatasi stunting dengan menerbitkan berbagai program dan kebijakan. Fajar berharap BGN dapat mempertimbangkan peningkatan kuota SPPG yang dikelola oleh KMP, mengingat peran penting KMP dalam mencapai tujuan tersebut.
“Kami berharap BGN dapat mempertimbangkan usulan ini dengan serius, sehingga KMP dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di Kulon Progo yang membutuhkan,” ujar Fajar kepada perwakilan BGN yang hadir.
Persoalan angka stunting menjadi fokus pembahasan dalam dialog tersebut. Fajar Gegana mencatat bahwa stunting masih menjadi isu serius di DIY, khususnya di Kabupaten Kulon Progo.
“Banyak faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka stunting, seperti kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang gizi, akses terhadap makanan bergizi, dan sanitasi yang belum optimal,” ungkapnya.
Melalui program SPPG, diharapkan pendampingan gizi yang lebih intensif dapat diberikan kepada keluarga dengan anak-anak stunting.
Fajar Gegana menekankan bahwa percepatan penurunan angka stunting membutuhkan kolaborasi dari semua pihak. “Bukan hanya pemerintah, tetapi juga peran dari masyarakat, swasta, dan lembaga non-pemerintah sangat penting,” pungkasnya.
Keberhasilan program SPPG melalui KMP diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan kesehatan masyarakat di Kulon Progo dan DIY secara keseluruhan.