Mendagri beri pemda waktu 3 hari data rumah rusak akibat bencana Aceh
Mendagri Beri Pemda Waktu 3 Hari Data Rumah Rusak Akibat Bencana Aceh
Banda Aceh – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) Pascabencana Sumatera menginstruksikan pemerintah daerah (pemda) di Aceh agar me segera melengkapi data rumah rusak akibat bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu. Instruksi tersebut wajib dipenuhi dalam waktu tiga hari ke depan.
Mendagri Tito memimpin rapat koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Aceh, Selasa (17/10/2023), untuk membahas penanganan pascabencana. Ia menekankan perlunya data yang akurat dan komprehensif sebagai dasar dalam menentukan skema penanganan dan distribusi bantuan.
“Dokumen perencanaan pembangunan dan bantuan yang kita susun harus didasari oleh data yang akurat. Mari kita selesaikan pengumpulan dan verifikasi data rumah rusak ini dalam waktu tiga hari untuk mempercepat proses pemulihan,” tegas Tito dalam rapat tersebut.
Tito juga meminta setiap pemda untuk mengoptimalkan posko-posko pengumpulan data di daerah masing-masing. “Kita butuhkan data yang detail, bukan hanya berapa rumah yang rusak, tapi juga jenis kerusakannya, kategori rumah, dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Data tersebut, menurut Tito, akan menjadi sangat penting dalam menyusun strategi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang tepat sasaran dan efektif. “Data ini akan membantu kita dalam menentukan jenis bantuan yang akan diberikan, skala prioritas, dan teknis implementasinya,” tambahnya.
Selain data kerusakan rumah, Mendagri Tito juga meminta pemda untuk segera mencatat jumlah korban jiwa, luka-luka, dan pengungsi akibat bencana. Informasi tersebut menjadi acuan penting dalam upaya penyediaan bantuan dan pelayanan kesehatan darurat.
Dalam rapat koordinasi tersebut, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Aceh menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses penanganan pascabencana. Beberapa di Jogjajateng.comnya adalah kesulitan akses ke daerah terpencil, minimnya sumber daya manusia (SDM) lapangan, dan keterbatasan infrastruktur.
Mendagri Tito mendorong pemda untuk terus berkoordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait dalam upaya menangani dampak bencana ini secara menyeluruh. “Jangan ragu untuk meminta bantuan dan dukungan dari pusat maupun lembaga-lembaga internasional,” ucapnya.
Kesimpulan
“Pemulihan pascabencana Aceh memerlukan penanganan yang cepat, terorganisir, dan tepat sasaran. Pengumpulan data yang akurat dan komprehensif menjadi tonggak awal dalam proses ini. Dengan langkah-langkah strategis dan kolaborasi yang optimal, diharapkan Aceh dapat segera pulih dari dampak bencana dan bangkit kembali dengan lebih kuat,” pungkas Mendagri Tito.