Mendongeng dua bahasa PrancisIndonesia
Mendongeng Dua Bahasa, Prancis dan Indonesia di Yogyakarta
Yogyakarta (Jogjajateng.com) – Suasana hangat menyelimuti Perpustakaan IFI Yogyakarta sore kemarin. Sejumlah anak-anak berkumpul, mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu, menunggu penampilan Edo (33) yang akan membawakan dongeng dalam sesi mendongeng dua bahasa, Prancis-Indonesia.
Mendongeng dua bahasa tidak hanya menjadi kegiatan yang mengasyikkan, tetapi juga merupakan cara kreatif untuk memperkenalkan bahasa asing kepada anak-anak sejak dini. Edo, dengan antusiasme membara, membawakan cerita “La Lègende de Colibri” (Legenda Colibri) dalam bahasa Prancis yang fasih. Ia menuangkan keunikan cerita tentang seekor burung hantu kecil yang tangguh dan belajar memaknai persahabatan dengan penggambaran vokal yang menarik, membuat anak-anak terhanyut dalam dunia fantasi.
“Setiap kali aku menceritakan dongeng dalam bahasa Prancis, aku merasakan kebahagiaan tersendiri,” ujar Edo, “Anak-anak bisa belajar bahasa asing secara menyenangkan, tanpa merasa beban.”
Seusai pembacaan dalam bahasa Prancis, Edo menerjemahkan alur cerita ke dalam bahasa Indonesia. Keseniannya membaca dalam dua bahasa tanpa menyajikan cerita yang terputus, membuat anak-anak semakin terpikat. Mereka lahap mengikuti setiap detail, dan beberapa bahkan mencoba menirukan pengucapan kata-kata Prancis yang dilontarkan Edo.
Di Jogjajateng.com balutan dongeng, Edo juga menyisipkan ajakan untuk anak-anak untuk berani mencoba belajar bahasa asing, tidak hanya Prancis, akan tetapi bahasa lainnya. Baginya, mempelajari bahasa asing adalah jendela untuk membuka dunia dan memperkaya wawasan.
Rangkaian kegiatan ini tak hanya berhenti pada pembacaan dongeng. Edo juga membuka sesi tanya jawab. Anak-anak tak ragu untuk bertanya tentang penulis buku, latar belakang cerita, dan bahkan biola yang dimainkan oleh karakter utama dalam dongeng. Sesi tanya jawab ini memberikan kesempatan berharga bagi anak-anak untuk melatih kemampuan mereka dalam memahami dan mengemukakan pertanyaan dalam bahasa asing.
Keia (9), salah satu peserta sesi mendongeng, mengungkapkan bahwa meskipun belum terlalu fasih dalam bahasa Prancis, ia merasa antusias oleh cara Edo mengajarkan bahasa tersebut. “Beliau menceritakannya dengan seru dan lucu, jadi belajar bahasa Prancis jadi seru,” ujar Keia dengan senyum lebar.
Sesi mendongeng dua bahasa ini menjadi bukti nyata bahwa proses belajar bahasa asing bisa menyenangkan dan efektif dilakukan sejak dini. Peserta yang hadir bukan hanya mendapatkan hiburan berupa dongeng, tetapi juga bentukan budaya literasi dan kemampuan berbahasa asing.
Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi terobosan lain dalam dunia pendidikan di masa mendatang, untuk menciptakan metode belajar yang kreatif dan inovatif, sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensi mereka secara optimal.