Trauma healing anak warnai pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang
Trauma Healing Anak Mewarnai Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang
Aceh Tamiang, Aceh – Suasana menyelimuti daerah itu tak secerah biasanya. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,1 yang mengguncang Aceh Tamiang beberapa waktu lalu meninggalkan luka mendalam, tak hanya pada infrastruktur namun juga pada jiwa anak-anak yang menjadi korban. Tim relawan dari berbagai elemen masyarakat berbondong-bondong untuk membantu dalam proses pemulihan pascabencana. Salah satu upaya yang menonjol di tengah kepedulian ini adalah program trauma healing untuk anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana alam tersebut.
Program ini diluncurkan oleh Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL) Laznas Peduli, bersinergi dengan Forum Umat Islam Bekasi (FUIB), dan Jalinan Alumni Timur (JAT). Melalui pendekatan humanis dan spiritual, upaya ini diharapkan dapat membantu anak-anak Aceh Tamiang untuk memproses emosi mereka, mengatasi rasa takut dan trauma, dan mulai membangun kembali ketahanan mental mereka pascabencana.
“Kejadian bencana ini sangat mengagetkan bagi anak-anak,” ujar dai sekaligus perwakilan AQL Laznas Peduli, Ustaz Ikhsan, “Mereka mungkin kehilangan orang terdekat, mengalami kerusakan rumah, dan kehilangan rasa aman. Trauma healing sangat penting untuk membantu mereka merasa aman dan dicintai kembali.”
Program trauma healing yang dirancang khusus untuk anak-anak ini menghadirkan kegiatan-kegiatan yang dirancang interaktif dan menyenangkan. Ayah, Ibu, dan anak-anak duduk berdampingan dalam sesi kuis religi, melukis, penggambaran, dan perenungan yang dipandu oleh para relawan.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah program “Bisakahkita Menghadapi Ketakutan Bersama?”. Di sini, anak-anak diajak untuk berbagi pengalaman mereka selama bencana dan mengungkapkan rasa takut mereka.
“Kegiatan ini membantu saya mengerti kalau rasa takut itu wajar,” ujar Aira, salah seorang anak korban gempa yang mengikuti program trauma healing. “Dengan belajar bersama teman-teman dan mendengar cerita dari kakak-kakak relawan, saya merasa lebih tenang.”
Melalui kegiatan-kegiatan ini, anak-anak diberikan kesempatan untuk memproses emosi mereka secara sehat, belajar mengelola rasa takut dan kecemasan, dan membangun kembali rasa percaya diri mereka.
Salah satu kunci keberhasilan program ini, menurut perwakilan FUIB, adalah pendekatan yang humanis dan penuh kasih sayang.
“Kami selalu menekankan pentingnya perhatian, rasa sayang, dan keamanan bagi setiap anak,” ungkap perwakilan FUIB. “Tak hanya menerangkan tentang agama, kami berusaha menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman agar anak-anak merasa terlindungi.”
Meskipun masih dalam tahap awal, program trauma healing anak pascabencana ini memberikan harapan bagi pemulihan bagi Aceh Tamiang. Dengan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, diharapkan program ini dapat membantu anak-anak memulihkan jiwa mereka dan kembali menatap masa depan dengan optimisme.